Al-Malhamah Al-Kubro I : Dahsyatnya Pertempuran Antara Thaifah Manshurah VS Koalisi 80 Bendera (Ar-Rum) [2]

 Bismillah…

Sebelumnya sudah kami ungkapkan bahwa sudah terwujudnya hadist “Thaifah Manshurah VS koalisi Ar-Rum dengan 80 bendera” . Kali ini kita akan melanjutkan pembahasan, yaitu memasuki episode-episode di dalam kecamuknya peperangan di Negeri Syam, yang juga digambarkan oleh Rasulullah ShallaLLAHU ‘alaihi Was Sallam…

Bagi yang belum membaca tulisan sebelumnya, mohon dibaca terlebih dahulu, agar memahami apa yang terjadi dengan benar, dan tersambung dengan pembahasan kali ini… Al-Malhamah Al-Kubro I : Terwujudnya Hadist “1 Bendera Islam VS 80 Bendera Koalisi Ar-Rum” [01]

Pertempuran di Dabiq / SYAM & Iraq

Kami akan mulai dengan mengutip hadistnya- hadistnya , sebagai berikut :

I. Hadits Shahih Muslim No. 5157 – Kitab Fitnah dan tanda kiamat

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ الرُّومُ بِالْأَعْمَاقِ أَوْ بِدَابِقٍ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِمْ جَيْشٌ مِنْ الْمَدِينَةِ مِنْ خِيَارِ أَهْلِ الْأَرْضِ يَوْمَئِذٍ فَإِذَا تَصَافُّوا قَالَتْ الرُّومُ خَلُّوا بَيْنَنَا وَبَيْنَ الَّذِينَ سَبَوْا مِنَّا نُقَاتِلْهُمْ فَيَقُولُ الْمُسْلِمُونَ لَا وَاللَّهِ لَا نُخَلِّي بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ إِخْوَانِنَا فَيُقَاتِلُونَهُمْ فَيَنْهَزِمُ ثُلُثٌ لَا يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ أَبَدًا وَيُقْتَلُ ثُلُثُهُمْ أَفْضَلُ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ اللَّهِ وَيَفْتَتِحُ الثُّلُثُ لَا يُفْتَنُونَ أَبَدًا فَيَفْتَتِحُونَ قُسْطَنْطِينِيَّةَ فَبَيْنَمَا هُمْ يَقْتَسِمُونَ الْغَنَائِمَ قَدْ عَلَّقُوا سُيُوفَهُمْ بِالزَّيْتُونِ إِذْ صَاحَ فِيهِمْ الشَّيْطَانُ إِنَّ الْمَسِيحَ قَدْ خَلَفَكُمْ فِي أَهْلِيكُمْ فَيَخْرُجُونَ وَذَلِكَ بَاطِلٌ فَإِذَا جَاءُوا الشَّأْمَ خَرَجَ فَبَيْنَمَا هُمْ يُعِدُّونَ لِلْقِتَالِ يُسَوُّونَ الصُّفُوفَ إِذْ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّهُمْ فَإِذَا رَآهُ عَدُوُّ اللَّهِ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ فَلَوْ تَرَكَهُ لَانْذَابَ حَتَّى يَهْلِكَ وَلَكِنْ يَقْتُلُهُ اللَّهُ بِيَدِهِ فَيُرِيهِمْ دَمَهُ فِي حَرْبَتِهِ

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Mu’alla bin Manhsur telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilaltelah menceritakan kepada kami Suhail dari ayahnya dari Abu Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga bangsa Romawi turun ke medan perang di suatu tempat bernama A’maq atau Dabiq, sehingga ada sekelompok pasukan dari Madinah yang keluar menghadapi mereka. Mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi ketika itu. Dan tatkala mereka berhadapan, pasukan Romawi berkata: ‘Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang menawan kami! ‘ Kaum muslimin menjawab: ‘Tidak, demi Allah, kami tidak akan membiarkan kalian memerangi saudara-saudara kami.’ Maka terjadilah peperangan antara mereka. Lalu ada sepertiga yang kalah dimana Allah tidak akan mengampuni dosa mereka untuk selamanya, dan sepertiga lagi terbunuh sebagai sebaik-baik para syuhada’ di sisi Allah, dan sepertiga lagi Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Mereka tidak akan ditimpa sebuah fitnah untuk selamanya, lalu selanjutnya mereka menaklukkan kostantinopel. Dan ketika mereka sedang membagi-bagi harta rampasan perang dan tengah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon zaitun, tiba-tiba setan meneriaki mereka ‘Sesungguhnya Al Masih telah muncul di tengah-tengah keluarga kalian, ‘ merekapun berhamburan keluar, dan ternyata itu hanyalah kebohongan belaka. Ketika mereka mendatangi Syam, ia muncul. Dan ketika mereka sedang mempersiapkan peperangan dan sedang merapikan barisan, tiba-tiba datanglah waktu shalat, dan turunlah Nabi Isa bin Maryam Shallallahu ‘alaihi wa Salam, lalu ia mengimami mereka. Dan apabila musuh Allah (Dajjal) melihatnya, niscaya ia akan meleleh sebagaimana garam yang mencair di dalam air, meskipun seandainya saja ia membiarkannya nantinya ia juga akan meleleh lalu binasa akan tetapi Allah menginginkan ia membunuhnya dengan tangannya lalu memperlihatkan kepada mereka darahnya yang berada di ujung tombaknya.”

Pemaparan hadist menurut Intepretasi kami sebagai berikut :

1. “Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai tentara Romawi menduduki A’maq atau Dabiq” :

Sumber : https://twitter.com/intent/tweet?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E787900006808313856%7Ctwgr%5E%7Ctwcon%5Es1_&ref_url=https%3A%2F%2Fwww.wilsoncenter.org%2Farticle%2Ftimeline-the-rise-spread-and-fall-the-islamic-state&in_reply_to=787900006808313856

Sumber : https://www.wilsoncenter.org/article/timeline-the-rise-spread-and-fall-the-islamic-state

Kemudian mengenai makna kata “يَنْزِلَ” (turun) dimaknai lebih kepada turun dari atas langit atau dari atas kepala menuju ke tanah/tempat berpijak. Artinya pasukan Ar-Rum untuk sampai ke Dabiq mempunyai fasilitas yang mengangkat mereka dari tempat asalnya menuju ke atas Dabiq lalu menurunkan mereka tepat di sana. Di zaman modern ini kita tidak asing lagi dengan teknologi ini, yaitu pesawat dan helikopter yang mampu menurunkan pasukan dari langit/udara. Berarti, intepretasi pepersngan ini terjadi di zaman modern ini sesuai dengan isyarat dari hadist ini.

2.” maka keluarlah untuk menghadapi mereka sepasukan tentara dari kota “Madinah”, dari kalangan penduduk bumi yang terbaik pada waktu itu”

Syaikh Al-Mubayyadh menjelaskan di dalam bukunya “Ensiklopedia Akhir Zaman” bahwa penyebutan kata “Madinah” di hadist ini bukanlah kota Madinah/Yatsrib yang ada di Jazirah Arab, melainkan kata madinah diartikan sebagai “kota” atau “ibukota” yang menjadi pusat/markaz pasukan Thaifah Manshurah yang sudah menguasai Syam pada saat itu. Menurut sebagian ulama akhir zaman kota itu adalah Damaskus, berdasarkan hadist berikut:

Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir berkata, telah menceritakan kepadaku Zaid bin Arthah ia berkata; Aku mendengar Jubair bin Nufair menceritakan dari Abu Darda ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saat terjadinya peperangan yang besar, pangkalan kaum muslimin berada di daerah Ghuthah, sebuah wilayah di pinggiran kota yang dikenal dengan nama Damaskus, salah satu kota terbaik di negeri Syam.”(Hadits Sunan Abu Dawud No. 3746 – Kitab Peperangan Besar)

Namun setelah kami meneliti, menurut intepretasi kami (bukan berarti kami lebih hebat dari para ulama), berdasarkan bukti lapangan , pasukan terbaik itu bukanlah dari kota Damaskus, namun dari kota lain yang menjadi pusat pemerintahan Thaifah Manshurah di Syam pada waktu itu, yaitu kota Raqqah . Adapun hadist tentang Damaskus di atas menjelaskan bahwa Damaskus menjadi tempat berlindung terakhir kaum muslimin (warga sipil) di Syam saat terjadinya perang, di mana semua kota mengalami kehancuran sedangkan yang tidak hanya Damaskus dan Amman (Yordania), berdasar hadist berikut:

“Telah menceritakan kepada kami Ali bin Sahl Ar Ramli berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walidberkata, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul Aziz dari Makhul ia berkata, “Sungguh, Rum benar-benar akan memasuki Syam (mambawa fitnah) selama empat puluh hari, tidak ada yang selamat darinya selain Damaskus dan Amman.”(Hadits Sunan Abu Dawud No. 4020 – Kitab Sunnah)




Sejumlah berita memperlihatkan bahwa Ghouta/Damaskus dan Amman/Yordania, menjadi kemah bagi kaum muslimin (kamp: pengungsian)

3.“Dan tatkala mereka berhadapan, pasukan Romawi berkata: ‘Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang menawan kami! ‘ Kaum muslimin menjawab: ‘Tidak, demi Allah, kami tidak akan membiarkan kalian memerangi saudara-saudara kami.”

Maksud “Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang menawan kami! ” adalah : koalisi Ar-Rum meminta berhadapan dengan pejuang Islam yang berasal dari bangsa mereka sendiri, namun kh1l4f4h tidak mau menyerahkan mereka, karena walaupun berasal dari berbagai bangsa, jika mereka telah masuk Islam, apalagi ia telah berhijrah menuju ke Syam kemudian berjihad, maka status mereka adalah saudara sesama muslim yang harus dilindungi dan dibela. Mengapa Ar-Rum menginginkan orang-orang sebangsa mereka untuk diperangi ? Menurut Syaikh Al-Mubayyadh , sebagai hukuman karena telah memeluk Islam dan sebagai peringatan keras bagi orang-orang di dalam negara mereka agar tidak mengikuti langkah-langkah orang sebelumnya.

Hadist ini juga menunjukkan banyaknya pejuang Thaifah Manshurah yang berasal dari luar Syam dan Non Arab. Pejuang dari berbagai benua, Asia, Eropa, Amerika, Australia bahkan juga dari Israel Hijrah menuju Syam menyambut kh1l4fah. Melihat banyaknya dukungan dari banyaknya “pejuang asing” membuat koalisi Ar-Rum bertambah gusar, maka singkat cerita terjadilah pertempuran di antara mereka.



Warga dan pejuang Thaifah Manshurah berasal dari berbagai bangsa di dunia

Sumber : https://en.m.wikipedia.org/wiki/Military_activity_of_ISIL

4. “Maka terjadilah peperangan antara mereka. Lalu ada sepertiga yang kalah dimana Allah tidak akan mengampuni dosa mereka untuk selamanya”

Setiap orang akan Allah uji, bahkan para Nabi & sahabat Nabi pun diuji. Begitupun dengan kelompok ini mereka diuji. Ketika diuji dengan gempuran musuh yang sangat banyak, bertubi-tubi datang dari segala arah, maka ada sepertiga dari pasukan Thaifah yang “kalah” yaitu maksudnya melarikan diri dari medan pertempuran, bukan lari untuk siasat, tapi lari keluar dari barisan thaifah, bahkan lari kembali pulang ke Negeri-negeri kafir dan mengatakan menyesal telah hijrah menuju ke Daulah Thaifah Manshurah, kemudian mereka kembali pada nasionalisme dan melupakan saudara-saudara mereka yang berjuang dan syahid di jalan Allah. Mereka inilah yang dimurkai Allah dan tidak akan diampuni selamanya. Pada gambar di atas, kita bisa melihat ada data jumlah “returnees”, artinya mereka yang kembali ke tanah air mereka setelah sebelumnya hijrah ke negara Islam. Di antara mereka ada yang dipaksa pulang/ dideportasi pada saat akan hijrah, namun di antara mereka juga ada yang sengaja melarikan diri dari Negara Islam ketika diperangi oleh Ar-Rum. Mereka yang sengaja melarikan diri inilah yang tidak diampuni Allah selamanya. Kenapa tidak diampuni Allah selamanya? Maknanya mereka murtad, karena membelot kepada musuh.

5. “dan sepertiga lagi terbunuh sebagai sebaik-baik para syuhada’ di sisi Allah”

Ujian tidak membuat gentar sedikitpun, mereka tetap bertahan, mempertahankan wilayah yang dikuasai dari gempuran koalisi 80 bendera Ar-Rum. Termasuk di dalamnya tidak hanya kombatan, tetapi juga wanita dan anak-anak. Mereka akhirnya berhasil dikalahkan, mereka semua syahid, sebagai syahid yang terbaik di sisi Allah Subhaana Wa Ta’aala.

Gambaran dari hadist mengenai 2 / 3 kelompok Thaifah Manshurah di atas menggambarkan sebuah kekalahan, kehilangan banyak nyawa /wilayah. Lebih detail lagi gambaran ini dijabarkan oleh hadist lainnya dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu :

Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] dan [Ali bin Hujr] keduanya dari [Ibnu Ulaiyah] dan teksnya milik Hujr, telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Ibrahim] dari [Ayyub] dari [Humaid bin Hilal] dari [Abu Qatadah Al Adawi] dari [Yasir bin Jabir] berkata: Angin merah bergejolak di Kufah lalu seseorang datang, ia tidak memiliki kebiasaan lain selain berkata: Wahai [Abdullah bin Mas’ud], kiamat telah tiba. Yasir berkata: Ibnu Mas’ud duduk setelah sebelumnya bersandar lalu berkata: Kiamat tidak terjadi hingga harta warisan tidak dibagi dan harta rampasan tidak membuat senang. Setelah itu ia berisyarat dengan tangannya seperti ini, ia menunjuk ke arah Syam lalu berkata: Musuh berkumpul untuk kaum muslimin dan kaum muslimin pun berkumpul untuk (menghadapi) mereka. Aku berkata: Romawi maksudmu? Ia menjawab: “Ya. Pada saat perang kalian itu terjadilah raddah (kemurtadan) yang dahsyat.”. Maka kaum muslimin mengirim sekelompok pasukan untuk mati, tidak kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka menyerang hingga malam hari lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidak menang dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. Kaum muslimin mengirim sepasukan untuk mati (yang kedua), agar tidak kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka menyerang hingga malam hari lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidak menang dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. Kaum muslimin mengirim sepasukan untuk mati (hari ketiga), agar tidak kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka menyerang hingga malam hari lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidak menang dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. Pada hari keempat, sisa kaum muslimin yang masih ada maju lalu Allah menjadikan kekalahan atas mereka. Kemudian mereka memerangi pasukan perang-bisa jadi rawi berkata: “Tidak terlihat sepertinya”, atau mengatakan: Belum pernah terlihat semisalnya” (LAM YURAA MITSLUHAA atau LAM YURA MITSLUHAA), hingga burung-burung berterbangan melintasi segala penjuru mereka dan tidaklah melintasi mereka melainkan pasti tersungkur mati. Satu kabilah menghitung, tadinya berjumlah seratus orang tapi mereka hanya menjumpai satu orang saja, lalu harta rampasan perang mana yang bisa membuat senang atau harta peninggalan mana yang bisa dibagikan. Saat mereka seperti itu, mereka tiba-tiba mendengar serangan lebih besar darinya kemudian orang yang berteriak mendatangi mereka bahwa Dajjal telah mengganti mereka dikeluarga mereka lalu mereka membuang yang ada ditangan mereka kemudian pulang, setelah itu mereka mengirim sepuluh tentara berkuda ke depan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui nama-nama mereka, nama-nama ayah mereka dan warna kuda mereka. Mereka adalah tentara berkuda terbaik di muka bumi saat itu atau diantara tentara berkuda yang terbaik di atas bumi saat itu.” [Ibnu Abi Syaibah] berkata dalam riwayatnya: Dari Usair bin Jabir. Telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Ubaid Al Ghubari] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Humaid bin Hilal] dari [Abu Qatadah] dari [Yusair bin Jabir] berkata: Aku pernah berada di dekat [Ibnu Mas’ud] lalu angin merah bergejolak, ia menyebut hadits serupa. Hadits Ibnu Ulaiyah lebih lengkap. Telah menceritakan kepada kami [Syaiban bin Farrukh] telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Al Mughirah] telah menceritakan kepada kami [Humaid bin Hilal] dari [Abu Qatadah] dari [Asir bin Jabir] berkata: Aku berada di kediaman [Abdullah bin Mas’ud] dan rumahnya penuh dengan orang, ia berkata: Angin merah bergejolak di Kufah, lalu ia menyebut seperti hadits Ibnu Ulaiyah.

Kami akan sedikit memaparkan sebagian “hadist Ibnu Ulaiyah” yang tercetak miring:

Syaikh Al-Mubayyadh dalam bukunya “Ensiklopedia Akhir Zaman ” di halaman 746 menjelaskan bahwa hadist ini menceritakan bagaimana dahsyatnya perang kolosal/perang darat yang terjadi antara Thaifah Manshurah dengan koalisi Ar-Rum, dan tak pernah ada yang menyamainya di masa lampau dan di masa mendatang bagi kaum muslimin. Hadist ini menjelaskan secara khusus keadaan yang dihadapi penduduk Syam/ Thaifah Manshurah pada saat itu. Berikut penjelasannya :

  • Tentang makna ” Kiamat tidak terjadi hingga harta warisan tidak dibagi dan harta rampasan tidak membuat senang” , artinya : menjelang kiamat akan terjadi peperangan yang sangat dahsyat, begitu beratnya ujian bagi kaum muslimin pada saat itu berupa terbunuhnya banyak saudara, anak-anak dan orang tua mereka, hingga harta yang masih bisa diselamatkan pun tidak (bisa) diwariskan karena pewarisnya telah syahid atau menghilang (apakah ditangkap musuh atau melarikan diri). Bagi mereka yang di wilayah yang mendapat kemenangan, mendapatkan ghanimah pun mereka tetap bersedih karena banyaknya kehilangan nyawa saudara-saudara mereka.
  • Makna “Pada saat perang kalian itu terjadilah raddah (kemurtadan) yang dahsyat.” Maksudnya adalah : banyak manusia baik dari internal barisan Thaifah Manshurah ataupun dari eksternal, yang kemudian “Murtad” dari Islam, akibat pengkhianatan/keberlepasan/ sikap baroo’ah mereka kepada perjuangan Thaifah Manshurah , dan digantikan dengan keberpihakkan/loyalitas/silkap wala’ kepada Ar-Rum dan sekutunya. Seperti halnya 1/3 Pasukan Thaifah yang kemudian lari ke belakang dan tidak diampuni selama-lamanya oleh Allah, yaitu karena mereka telah menukar Al-wala’ dengan Al-Baroo dan menusuk Thaifah Manshurah dari belakang. Kemudian kemurtadan di luar Thaifah manshurah( Eksternal) adalah sangat terang benderang terlihat dari bergabungnya bendera-bendera/ pemerintahan bangsa Arab (seperti Arab Saudi, UEA, negara-negara Liga Arab), kemudian bendera bangsa lain yang mayoritas muslim atau yang mengaku “mewakili muslim” (seperti Turki, Malaysia , dsb) , mereka bergabung dengan aliansi 80 bendera bersama Kuffar sekaligus Thagut yaitu Ar-Rum dalam memerangi muslimin dan syariat Islam di Daul4h Isl4miyyah. Bukankah ini kemurtadan yang sangat nyata??? Siapapun yang mendukung bendera-bendera ini( dari bendera koalisi Ar-Rum) memerangi Thaifah Manshurah (I51S) baik ia (orang itu) masuk ke jajaran militer , pemerintahan atau rakyat biasa, baik mendukung dengan aksi nyata/perbuatan, baik dengan lisan atau tulisan, ataupun doa, bahkan hanya sekedar kegembiraan akan diperanginya/dikalahkannya Thaifah Manshurah ini, maka orang ini telah batal Islamnya / murtad. Hal ini sesuai dengan kesepakatan ulama Ahlussunnah bahwasannya salah satu pembatal keislaman yang 10 adalah : “membantu/mendukung/ bergembira (ketika) orang-orang kafir memerangi kaum muslimin”, apalagi kaum muslimin yang dimaksud termaktub dalam hadist Nabi dan dikhitabi/ disebut oleh Allah dan rasul-NYA sebagai representasi dari kaum muslimin yang senantiasa berjihad untuk menegakkan Tauhid dan syariat Islam (Thaifah Manshurah) .
  • Makna “Kaum muslimin mengirim sekelompok pasukan untuk mati”, maksudnya(menurut intepretasi kami) adalah : Pasukan berani mati/ pasukan Bom Syahid (Isytisyhadiyiin) & pasukan penerobos/penyusup ( inghimasyiyiin) . Dengan adanya hadist ini menjadi dalil juga bahwa Ibnu Mas’ud tidak mempermasalahkan “amal isytisyhad/berani mati”. Dan seperti yang kita ketahui bahwa Thaifah Manshurah (I51S) dengan pasukan berani matinya ini , sangat ditakuti musuh-musuhnya, dan banyak meluluhlantakkan musuhnya dengan cara ini.
  • Makna “dan sekelompok pasukan itu pun lenyap” , Maksudnya adalah: pasukan berani mati beserta yang diserangnya , semua binasa. Hal ini melukiskan, saat perang ini terjadi, digunakannya senjata yang mampu melenyapkan/membinasakan satu kelompok sekaligus, kita kenal yaitu “Bom” yang menghasilkan ledakan dahsyat, sehingga sekelompok pasukan “lenyap” seketika.
  • Makna “Hari pertama…, Hari kedua… Hari ketiga dan hari keempat… “ , menurut intepretasi kami adalah: periode pertempuran antara Koalisi 80 bendera Ar-Rum VS Thaifah Manshurah dibwilayah Iraq dan Syam (wilayah utama), yang masing-masing lamanya setahun (hitungan kalender Hijriyah). Secara resmi Koalisi AS dan 80 bendera (baca: Koalisi Ar-Rum) dibentuk pada bulan September 2014 ( Awal tahun 1436 H), dan benteng terakhir I51S (baca: Thaifah Manshurah) berhasil dikalahkan oleh pasukan koalisi yaitu pada Maret 2019 (1440 H).
  • > Hari pertama : periode 1436-1437H (Setahun Pertama)
  • > Hari kedua : periode 1437-1438 H ( Setahun kedua)
  • > Hari ketiga : periode 1438-1439 H
  • ( Setahun ketiga )
  • > Hari keempat : periode tahun 1439-1440 H (Setahun keempat)
  • Makna “Pada hari keempat, sisa kaum muslimin yang masih ada maju lalu Allah menjadikan kekalahan atas mereka”, maksudnya adalah : seperti yang terdapat dalam hadist Zuhair Bin Harb, bahwa 2/3 dari pasukan Thaifah dikalahkan, seluruh wilayah utamanya di Syam dan Iraq terlepas. Pertempuran terakhir adalah pertempuran di al-Baghouz Fawqani (di wilayah Syam), jatuh ke tangan koalisi Ar-Rum pada tahun keempat peperangan.
  • Makna -> “Kemudian mereka memerangi pasukan perang-bisa jadi rawi berkata: “Tidak terlihat semisalnya”, atau mengatakan: Belum pernah  terlihat semisalnya” (LAM YURAA MITSLUHAA atau LAM YURA MITSLUHAA), hingga burung-burung berterbangan melintasi segala penjuru mereka dan tidaklah melintasi mereka melainkan pasti tersungkur mati. “, menurut intepretasi kami maksudnya adalah: sesudah 2/3 dari Thaifah Manshurah dikalahkan kemudian seluruh wilayah di syam dan Iraq jatuh maka tinggallah 1/3 pasukan yang Allah selamatkan dan akan dimenangkan atas musuh-musuhnya di kemudian hari, kami akan menjelaskan apa yang terjadi pada 1/3 pasukan yang dimenangkan Allah ini dengan lebih detail pada tulisan yang tersendiri. Pada potongan hadist di atas bahwa Ar-Rum & koalisinya setelah kemenangannya, kemudian mereka menarik sebagian besar pasukan daratnya, kemudian menggantikannya dengan pasukan yang belum pernah terlihat sebelumnya yang semisalnya, pasukan yang terbang lebih cepat dari burung atau bahkan bisa lebih lambat dari burung, namun ketika burung melewati lambungnya , burung akan mati dkarenakan tenaga panas yang dikeluarkan dari mesin jet, atau dari amunisi yang ditembakkan dari lambungnya. Ya, pasukan ini menurut intepretasi kami adalah pasukan Drone atau pesawat kecil tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh. Inilah yang juga terjadi di Afghanistan hari ini, AS menarik seluruh pasukannya, dan menggantinya dengan Drone.
  • Makna “Satu kabilah menghitung, tadinya berjumlah seratus orang tapi mereka hanya menjumpai satu orang saja”, maksudnya adalah : pasukan Drone berhasil membunuh sebagian besar sasarannya , dengan tingkat kesuksesan misi mencapai 99/100 (99 %) presisi kepada target-target kombatan, ini juga berarti kekuatan 1 drone bisa membunuh sebagian besar anggota kelompok suatu kabilah sehingga hanya menyisakan 1 orang selamat.
  • Makna “lalu harta rampasan perang mana yang bisa membuat senang atau harta peninggalan mana yang bisa dibagikan.” Maksudnya adalah : perang yang sangat berbahaya dipihak umat Islam ini (melawan Pasukan Drone), dengan banyak kehilangan nyawa, maka seseorang yang selamat tidak bisa mewariskan hartanya, atau jika ia diberikan/mendapat ghanimah ia tidak berbahagia karena penderitaan yang dirasakan sungguh sangat berat. Di sinilah kita menyadari bahwa , tidak ada yang menggerakkan mereka (Thaifah Manshurah) untuk terus berjihad tanpa menyerah , kecuali keikhlasan kepada Allah untuk menegakkan agama-NYA, bukan karena mereka ingin mendapatkan ghanimah/harta dunia seperti yang dituduhkan orang kafir dan munafik.

Demikian pemaparan sebagian dari isi hadist Ulaiyah dan hadist Zuhair bin Harb mengenai jalannya peperangan antara Thaifah Manshurah VS koalisi 80 bendera Ar-Rum.

Sebagian sisa isi hadist yang belum kami paparkan, maka menurut intepretasi kami, hadist tersebut menggambarkan situasi dan kondisi selanjutnya yang terjadi kepada 1/3 pasukan yang dijanjikan kemenangan ( pada hadist Zuhair bin Harb: … “dan sepertiga lagi Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Mereka tidak akan ditimpa sebuah fitnah untuk selamanya”. Insyaallah episode ini akan kami paparkan dalam tulisan tersendiri Insyaallah..

Post a Comment