Bismillah…
Ada perbedaan ketika kami meng-intepretasikan hadist-hadist mengenai kejadian sebelum dengan setelah perang kolosal/Al-malhamah Al-kubro di Syam (baca sebelumnya: Al-Malhamah Al-Kubro I : Terwujudnya Hadist “1 Bendera Islam VS 80 Bendera Koalisi Ar-Rum”[01], dan
Karena perjalanan 1/3 Thaifah Manshurah yang dijanjikan kemenangan, peristiwa-peristiwa yang dilaluinya yang diceritakan dalam hadist-hadist, belumlah semuanya terjadi di masa ini, baru sebagian terjadi , sisanya di masa depan. Artinya, apa yang kami coba ungkap, sebagiannya hanya berupa intepretasi berupa kisi-kisi / perkiraan dengan apa yang akan terjadi berdasar hadist-hadist shahih insyaallah. Saya juga sangat mengharapkan masukan dari para pembaca sekalian, karena tentunya apa yang kami hasilkan dari intepretasi kami masih banyak kesalahan dan kekurangan…
Sebelum melanjutkan kami mohon bagi yang belum membaca episode sebelumnya, kami anjurkan untuk membacanya terlebih dahulu agar pemahaman akan pembahasan akan lebih baik dan sempurna, insyaallah..
Dalam tulisan kali ini akan ada 3 hal kurang lebih yang ingin kami sampaikan.
- Apa yang akan terjadi setelah peperangan di Syam
- Keadaan 1/3 pasukan Thaifah Manshurah yang dijanjikan kemenangan/ tidak terfitnah selamanya.
- Keadaan Hijaz dan masuknya Almahdi ke dalam barisan Thaifah Manshurah.
Apakah Yang Selanjutnya Terjadi Setelah Al-malhamah Al-kubro antara Thaifah VS koalisi 80 bendera Ar-Rum ??
Alhamdulillah… Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam menjawab dengan sabdanya..
Telah menceritakan kepada kami [Haiwah bin Syuraih Al Himshi] berkata, telah menceritakan kepada kami [Baqiyyah] dari [bahir] dari [Khalid] dari [Ibnu Abu Bilal] dari [Abdullah bin Busr] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Antara peperangan dan pembukaan kota Konstantinopel jaraknya enam tahun, lalu Al Masih Ad Dajjal keluar pada awal tahun ke tujuh.” Abu Dawud berkata, “Ini lebih shahih ketimbang hadits Isa.”
Berdasar hadist ini, mari kita berhitung…
Peperangan TM(Thaifah Manshurah) vs Ar-Rum yang dimaksud berakhir dengan kekalahan 2/3 pasukan TM, kemudian lepasnya kekuasaan penuh TM atas Syam dan Iraq yang notabene adalah wilayah utama kekh4l1fahan, peristiwa ini terjadi pada tahun 1440 H/ 2019 M.
Bila 6 tahun yang dimaksud hadist di atas adalah sesuai dengan hitungan tahun kita maka, 6 tahun setelahnya adalah tahun 1446 H ( yang jadi patokan adalah tahun Hijriyah).
Sedangkan tahun ini, di mana kita ada sekarang adalah tahun 1443 H/ 2021 M.
Maka insyaallah, bila intepretasi kami benar, maka 3 tahun lagi kita (kaum muslimin) atau secara khusus Thaifah Manshurah akan menaklukan Konstantinopel / Turki. Ini tentu kabar gembira bagi kita semua. Namun bersama kabar gembira, selanjutnya adalah peringatan bahwa di awal tahun ke-7 nya , yaitu tahun 1447 H, akan muncul sosok yang menjadi fitnah terbesar umat manusia, yaitu munculnya Al-Masih Ad-Dajjal La’natullah ‘Alaihi. Berarti 4 tahun lagi …
Pertanyaan selanjutnya adalah : apakah penaklukan konstantinopel terjadi sebelum Al-Mahdi muncul ? Atau terjadi setelah kemunculan Al-Mahdi ?
Berdasarkan hadist-hadist yang akan kami paparkan penjelasannya, maka kesimpulan kami adalah bahwa takluknya Kontantinopel akan terjadi setelah kemunculan Al-Mahdi. Yang berarti jika penaklukan Konstantinopel berdasar perhitungan kita di atas terjadi 3 tahun ke depan. Maka munculnya Al-Mahdi akan ada di masa di antara 3 Tahun ini insyaallah.
Tentunya Saudara pembaca menanyakan apa dasarnya sehingga menyimpulkan bahwa Al-Mahdi muncul terlebih dahulu sebelum penaklukan Konstantinopel? Hal ini karena dalam hadist-hadist yang menunjukkan kronologi kemunculan Al-Mahdi, Thaifah Manshurah / pendukungnya yang langsung menyambutnya berasal dari Syam dan Iraq, bukan dari arah Konstantinopel. Alasan kedua, karena dalam hadist ,takluknya konstantunopel didahului oleh keruntuhan kota Madinah, dan menurut intepretasi kami runtuhnya/hancurnya kota Madinah berada pada rentetan kronologi datangnya Almahdi (di bawah akan djelaskan), yang berarti momen datangnya Al-Mahdi datang lebih dulu sebelum konstantinopel ditaklukan.
Prakondisi Sebelum Munculnya Al-Mahdi :
Makmurnya Baitul Maqdis dan Runtuhnya Kota Yastrib/ Madinah
حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ يَخَامِرَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُمْرَانُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَرَابُ يَثْرِبَ وَخَرَابُ يَثْرِبَ خُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ وَخُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ فَتْحُ قُسْطَنْطِينِيَّةَ وَفَتْحُ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ خُرُوجُ الدَّجَّالِ ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى فَخِذِ الَّذِي حَدَّثَهُ أَوْ مَنْكِبِهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَا لَحَقٌّ كَمَا أَنَّكَ هَاهُنَا أَوْ كَمَا أَنَّكَ قَاعِدٌ يَعْنِي مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ
Telah menceritakan kepada kami [Abbas Al ‘Anbari] berkata, telah menceritakan kepada kami [Hasyim Ibnul Qasim] berkata, telah menceritakan kepada kami [‘Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban] dari [Bapaknya] dari [Makhul] dari [Jubair bin Nufair] dari [Malik bin Yukhamir] dari [Mu’adz bin Jabal] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ramainya Baitul Maqdis adalah tanda kehancuran kota Madinah, hancurnya kota Madinah adalah tanda terjadinya peperangan besar, terjadinya peperangan besar adalah tanda dari pembukaan kota Konstantinopel, dan pembukaan kota Konstantinopel adalah tanda keluarnya Dajjal.” Kemudian beliau menepuk-nepuk paha orang yang beliau ceritakan tentang hadits tersebut, atau dalam riwayat lain, ‘pundaknya’. Kemudian bersabda: “Semua ini adalah sesuatu yang benar, sebagaimana engkau -Mu’adz bin Jabal- sekarang berada di sini adalah sesuatu yang benar.”
Penjelasan hadist berdasar intepretasi kami :
- “Ramainya Baitul Maqdis adalah tanda kehancuran kota Madinah” , penjelasan : Ramainya Baitul Maqdis maknanya adalah banyak dikunjungi orang atau menjadi pusat keramaian. Pertanyaannya; bukankah memang Baitul Maqdis selalu ramai dikunjungi/ diziarahi orang? Ya betul, tapi arti ramai di sini memiliki arti atau kondisi khusus. Makna ramainya Baitul Maqdis bukan juga berarti Baitul Maqdis telah ditaklukan oleh kaum muslimin dan ditegakkan hukum Islam di atasnya, karena makna “ramai” bersifat umum , seperti halnya kota-kota di negara-negara maju saat ini kondisinya Ramai dikunjungi/diziarahi, seperti Paris-Perancis, Las Vegas -AS, dsb. Sebutan Baitul Maqdis adalah nama lain dari kota suci yang disucikan oleh 3 agama besar, Islam, Yahudi, Kristen. Kota dimaksud adalah Yerusalem. Peristiwa yang dimaksud hadist di atas menurut intepretasi kami (awalnya) terjadi di tahun 2017 M, tidak lama setelah Th4ghut Iraq, Iran, dan Suriah mengumumkan kemenangan atas 1Sl5 (baca: Thaifah Manshurah), tepatnya bulan Desember 2017 M Ar-Rum(Presiden AS) mengumumkan mengakui Yerusalem ( baca : Baitul Maqdis ) sebagai ibukota Israel/ Zionist. Pengumuman ini disambut oleh seluruh umat yahudi, kristen dan umat lain (yang mendukung Zionist) dengan gembira, kemudian mereka (Zionist) mulai meramaikan Yerussalem dengan perhelatan/ perayaan berupa pesta-pesta dan konferensi peresmian dengan mengundang wakil-wakil dari setiap negara untuk datang ikut meresmikan dan meramaikan ibukota baru zionist/ Israel, yaitu : Yerussalem (baca : Baitul Maqdis). Lalu bagaimana dengan makna “hancurnya Madinah” ?, Kami akan jelaskan di poin nomer 2
- “hancurnya kota Madinah adalah tanda terjadinya peperangan besar” , penjelasan : menurut Intepretasi kami hancurnya kota Madinah terjadi tidak lama lagi (karena tanda pertama yaitu makmurnya Baitul Maqdis sudah berlaku/terjadi), yaitu menjelang dibaiatnya Al-Mahdi. Akan ada serangan tiba-tiba dari arah Syam, oleh pasukan darat dengan tujuan menghancurkan Baitullah dan membunuh orang yang diduga sebagai Al-Mahdi. Hadistnya sebagai berikut : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِ أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ صَالِحٍ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ صَاحِبٍ لَهُ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُونَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيمَةَ كَلْبٍ فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُلْقِي الْإِسْلَامُ بِجِرَانِهِ فِي الْأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ قَالَ أَبُو دَاوُد قَالَ بَعْضُهُمْ عَنْ هِشَامٍ تِسْعَ سِنِينَ و قَالَ بَعْضُهُمْ سَبْعَ سِنِينَ حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَقَالَ تِسْعَ سِنِينَ قَالَ أَبُو دَاوُد و قَالَ غَيْرُ مُعَاذٍ عَنْ هِشَامٍ تِسْعَ سِنِينَ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْعَوَّامِ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَحَدِيثُ مُعَاذٍ أَتَمُّ. Telah menceritakan kepada kami [Muhammad Ibnul Mutsanna] berkata, telah menceritakan kepada kami [Mu’adz bin Hisyam] berkata, telah menceritakan kepadaku [Bapakku] dari [Qatadah] dari [Shalih Abu Al Khalil] dari [Sahabatnya] dari [Ummu Salamah] isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Akan terjadi perselisihan saat matinya khalifah, lalu seorang laki-laki (Al Mahdi) akan keluar dari Madinah pergi menuju Makkah. Lantas beberapa orang dari penduduk Makkah mendatanginya, mereka memaksanya keluar (dari dalam rumah) meskipun ia tidak menginginkannya. Orang-orang itu kemudian membaiatnya pada suatu tempat antara Rukun (Hajar Asawad) dan Maqam (Ibrahim). Lalu dikirimlah sepasukan dari penduduk Syam untuk memeranginya, tetapi pasukan itu justru ditenggelamkan oleh (Allah) di Al Baida, tempat antara Makkah dan Madinah. Maka ketika manusia melihat hal itu, orang-orang shalih dari Syam dan orang-orang terbaik dari penduduk Irak membaiatnya antara rukun dan Maqam. Lalu tumbuhlah seorang laki-laki dari bangsa Quraisy, paman-pamannya dari suku Kalb, ia lalu mengirimkan sepasukan untuk memerangi mereka (orang-orang yang berbaiat kepada Al mahdi) namun mereka dapat mengalahkan mereka (pasukan yang dikirim oleh lelaki Quraisy dari suku Kalb). Alangkah ruginya orang yang tidak ikut serta dalam pembagian ghanimah perang melawan suku Kalb. ia (Al Mahdi) lalu membagi ghanimah, dan membina manusia dengan sunnah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan Islam ke semua penduduk bumi. Ia berkuasa selama tujuh tahun, kemudian wafat dan dishalati oleh kaum muslimin.” Abu Dawud berkata, “Sebagian mereka menyebutkan dari Hisyam, ” selama sembilan tahun.” Dan sebagian yang lain menyebutkan, “Selama tujuh tahun.” Telah menceritakan kepada kami [Harun bin Abdullah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdu Ash Shamad] dari [Hammam] dari [Qatadah] dengan hadits yang sama. Beliau mengatakan, “sembilan tahun.” Abu Dawud berkata, “Selain Mu’adz menyebutkan dari Hisyam, “selama sembilan tahun.” Telah menceritakan kepada kami [Ibnul Mutsanna] berkata, telah menceritakan kepada kami [Amru bin Ashim] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Al Awwam] berkata, telah menceritakan kepada kami [Qatadah] dari [Abu Al Khalil] dari [Abdullah bin Al Harits] dari [Ummu Salamah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits ini, namun hadits Mu’adz lebih lengkap.”
- “hancurnya kota Madinah adalah tanda terjadinya peperangan besar” Allah menyebut ketika hancurnya kota Madinah sebagai tanda “terjadinya peperangan Besar / Al-Malhamah Al-Kubro”, inilah yang kami namakan Al-Malhamah Kubro II ” yaitu Al-Malhamah Al-Kubro setelah kemunculan Al-Mahdi”. Tidak ada hadist yang menjelaskan sebab hancurnya kota Madinah. Namun yang ada hadist tentang ditinggalkannya kota Madinah oleh seluruh penduduknya, hadistnya: و حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي حَدَّثَنِي عُقَيْلُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّهُ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَتْرُكُونَ الْمَدِينَةَ عَلَى خَيْرِ مَا كَانَتْ لَا يَغْشَاهَا إِلَّا الْعَوَافِي يُرِيدُ عَوَافِيَ السِّبَاعِ وَالطَّيْرِ ثُمَّ يَخْرُجُ رَاعِيَانِ مِنْ مُزَيْنَةَ يُرِيدَانِ الْمَدِينَةَ يَنْعِقَانِ بِغَنَمِهِمَا فَيَجِدَانِهَا وَحْشًا حَتَّى إِذَا بَلَغَا ثَنِيَّةَ الْوَدَاعِ خَرَّا عَلَى وُجُوهِهِمَا Dan telah menceritakan kepadaku [Abdul Malik bin Syu’aib bin Laits]telah menceritakan kepadaku [bapakku] dari [kakekku] telah menceritakan kepadaku [Uqail bin Khalid] dari [Ibnu Syihab] ia berkata, telah mengabarkan kepadaku [Sa’id bin Al Musayyab] bahwa [Abu Hurairah] berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Nanti mereka bakal meninggalkan Madinah dalam keadaan baik sebagaimana dahulu apa adanya. Kemudian kota itu akan penuh dengan binatang-binatang dan burung-burung pemangsa daging (bangkai). Kemudian datang ke Madinah dua orang gembala dari Muzainah mencari kambingnya yang hilang. Didapatinya Madinah telah menjadi kota liar. Ketika kedua gembala itu sampai di Tsaniyatul Wada’, keduanya jatuh tersungkur di muka mereka.”. Tapi hadist “hancurnya kota Madinah/Yastrib” dengan hadist “ditinggalkannya kota Madinah” adalah peristiwa yang berbeda , yang satu menggunakan kata خَرَابُ يَثْرِبَ(hancurnya Yastrib/ Madinah) , sedangkan yang satunya menggunakan kalimat يَتْرُكُونَ الْمَدِينَةَ( Kosongnya/ditinggalkannya Madinah), dua kalimat bahasa Arab tersebut dalam pengertiannya mengandung perbedaan yang sangat jauh. Namun ada juga yang mengaitkan antara keduanya (kedua hadist tersebut), bahwa kehancuran Madinah adalah karena ditinggalkan oleh penduduknya, atau sebaliknya, tapi intepretasi ini pun mengalami kebuntuan, karena tidak ada atsar yang menjelaskan apa penyebab kota Madinah ditinggalkan penduduknya. simak hadits dalam Sahih Muslim berikut :عن عبد الله بن يزيد عن حذيفة أنه قال أخبرني رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم بما هو كائن إلى أن تقوم الساعة فما منه شيء إلا قد سألته إلا أني لم أسأله ما يخرج أهل المدينة من المدينة. Dari Abdillah bin Yazid dari Hudzaifah, ia berkata “ Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam telah menginformasikan padaku peristiwa-peristiwa yang akan terjadi hingga hari kiamat, tidak lah sesuatu pun tentangnya kecuali telah aku tanyakan, akan tetapi aku tidak menanyakan apa sebabnya penduduk Madinah meninggalkan kota Madinah “. (Sahih Muslim : Juz 4 halaman 2217). Adapun Intepretasi kami : bahwa kedua hadist di atas berbeda konteks/ peristiwa namun bisa saja berkaitan ataupun tidak, namun karena hadist tentang “ditinggalkannya kota Madinah” di dalam peristiwa-peristiwa perang besar / al-Malhamah Al-Kubro tidak dijelaskan terkait langsung dengan peristiwa lainnya (artinya hadist ini bisa jadi terpisah dari konteks Al-malhamah Al-kubro), maka kami memilih untuk tidak membahasnya saat ini. Menurut intepretasi kami Hancurnya kota Madinah : disebabkan karena ada pasukan yang menyerangnya, (dijelaskan dalam hadist Muhammad Ibnul Mutsanna di atas) pasukan ini bergerak dari negeri Syam. Secara geografis jika pasukan berasal dari Syam / utara Hijaz , maka letak kota Madinah ada di utara kota Mekkah , artinya orang yang mau menuju ke Baitullah (Mekkah) akan terlebih dahulu melewati kota Madinah sebagai jalur tercepatnya. kemudian sangat mungkin ketika tiba di Madinah, pasukan tersebut merusak kota tersebut/menghancurkan kota Madinah. Hal ini (bahwa pasukan dari Syam-lah yang menghancurkan kota Madinah) diperkuat dengan bunyi hadist yang mengatakan“tetapi pasukan itu justru ditenggelamkan oleh (Allah) di Al Baida, tempat antara Makkah dan Madinah”, ini menunjukan berarti benar mereka melewati Madinah terlebih dahulu, baru menuju Mekkah. Apakah penduduk Madinah melawan ketika diserang atau mengosongkan Madinah sebelum pasukan datang menyerbu (seperti dalam hadist “kosongnya /ditinggalkannya kota Madinah)? kami tidak bisa memastikannya. Tapi 1 hal yang pasti, bahwa orang yang akan dibaiat sebagai Al-Mahdi sudah menuju ke Mekkah untuk berlindung di sana, sebelum pasukan tiba di Madinah. Sepanjang perjalanan dari arah Syam menuju ke Madinah, pasukan ini menemui banyak kabilah/suku/orang-orang/jama’ah , banyak diantara mereka juga kaum muslimin yang kemudian dipaksa ikut rombongan tersebut memerangi Baitullah/ Ka’bah . Rasulullah dalam hadistnya , Dari Ummu Salamah RA, dia berkata : Suatu ketika Rasulullah berbaring dirumahku, tiba-tiba beliau duduk bersimpuh dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi ráji’uun (istirja’). Aku berkata, “Sungguh,apa yang terjadi dengan Anda wahai Rasulullah, Anda mengucapkan innå lillahiwa inna ilahi raji’un?” Beliau menjawab,”Sepasukan dari umatku, mereka datang dari arah Syam, mereka menuju ke Baitullah untuk memerangi seorang lelaki yang Allah melindunginya dari mereka. Sampai ketika mereka tiba di gurun pasir dari Dzul Hulaifah, mereka dibenamkan semuanya ke dalam tanah, sedang tempat asal mereka berbeda-beda.”. ( HR. Ahmad, Bal Musnad Al-Anshar hadits no: 26748 [Al-Musnad (6/349)]; hadist ini memiliki syahid pada kitab shahih), kemudian kami lengkapi dengan hadist : Dari Aisyah RA, dia berkata : Rasulullah mengguncang-guncangkan tubuhnya pada waktu tidur beliau. Kami bertanya, “Wahal Rasulullah, mengapa Anda melakukan sesuatu ketika tidur yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya.?”Beliau menjawab, “Amat mengherankan, sesungguhnya sejumlah orang dari kalangan umatku pergi menuju Baitullah bersama seorang lelaki Quraisy, lelaki tersebut sudah berlindung di Baitullah,sampai ketika mereka berada di padang sahara maka mereka dibenamkan ke dalam bumi.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah,(bukankah) sesungguhnya rombongan itu menghimpun banyak orang?” Beliau menjawab, “Ya, diantara mereka ada yang memang berniat ke Baitullah, ada pula yang dipaksa ikut, ada juga orang yang kehabisan bekal diperjalanan. Mereka semuanya dibinasakan sekaligus, tetapi mereka akan muncul dari tempat muncul yang berbeda-beda, Allah membangkitkan mereka berdasarkan niatan mereka,” ( hadist riwayat Muslim, Shahih Muslim, kitab Al-Fitan Wa Asyrath As-Sa’ah, hadist no. 2884 [Muslim Bis Syarh] An-Nawawi (9/205)). Dari 2 hadist (dari Ummu Salamah RA dan dari Aisyah RA, kita mengetahui bahwa komposisi pasukan yang akan menyerang Baitullah terdiri dari banyak kelompok yang mempunyai tujuan yang berbeda , namun tempat tujuan mereka sama yaitu Baitullah. Ada pasukan yang berniat membunuh Al-Mahdi (orang kafir), ada pasukan yang ingin memerangi Ka’bah/Baitullah(orang kafir), ada juga orang yang menginginkan harta kekayaan yang ada di Baitullah(bisa muslim atau kafir), ada juga orang yang yang dipaksa untuk ikut pasukan tersebut memerangi Baitullah(muslim). Oleh sebab itulah Rasulullah menyebut mereka dengan sebutan “sekelompok dari umatku” karena di dalamnya ada kaum muslimin yang tidak mengerti permasalahan namun ikut rombongan, dan ada kaum muslimin yang dipaksa ikut. Lalu siapakah yang memimpin , atau siapakah pasukan inti yang sebenarnya ingin menyerang Baitullah? Jika kita melihat pada wilayah Syam saat ini, maka akan kita dapati banyak pihak yang memusuhi Baitullah, di antaranya Bani Kalb yang diwakili oleh pemerintahan Bashar Assad yang beraliran Nushairiyah (termasuk Syiah), kemudian milisi Hezbollah (baca : Hezbolatta) di Libanon (Syi’ah) , memang dalam sejarah yang paling banyak mengancam /menyerang Baitulllah adalah mereka yang berpaham Syi’ah. Namun juga tidak menutup kemungkinan ada pasukan khusus yang ikut pasukan Bani Kalb dan Hezbollah ini, yang bertujuan khusus yaitu membunuh seseorang yang diketahui akan dibaiat menjadi Al-Mahdi (tujuan ini juga diungkap dalam hadist di atas), pasukan khusus ini menurut kami bisa juga berasal dari zionist yahudi/ Israel yang juga masih dalam wilayah yang disebut Syam. Hal ini sejalan dengan yang disabdakan Rasulullah SAW dalam hadist di atas, bahwa orang-orang yang bergabung dalam pasukan ini, berasal dari daerah yang berbeda. Inilah pasukan yang menurut intepretasi kami yang akan menghancurkan Madinah kelak, wallahu A’lam Bish shawwaab.
- “terjadinya peperangan besar adalah tanda dari pembukaan kota Konstantinopel” . Peperangan Besar atau Al-Malhamah Al-Kubro, menurut apa yang kami teliti, ada 2 tempat atau 2 kali Allah/ Rasul-Nya menyebut tanda “peperangan besar” di dalam hadist, yaitu Al-Malhamah Al-Kubro I: pada pertempuran di Syam (antara thaifah Manshurah vs 80 bendera koalisi Ar-Rum) ,dan yang kedua; Al-Malhamah Al-Kubro II :yaitu pada saat perang yang menyebabkan runtuhnya kota Yatsrib/ Madinah, perang kali ini melibatkan Al-Mahdi . Pertanyaannya, jika dikaitkan dengan hadist “pembebasan kota Konstaninopel” yang di dalam hadist tersebut dijelaskan ” (jarak )di antara “pertempuran” itu dengan dibebaskannya kota Konstantinppel berselang 6 tahun” (HR. Abu Dawud), maka pertempuran yang manakah yang dimaksud? Al-Malhamah Al-kubro I atau Al-Malhamah Al-Kubro II ??? Syaikh Al-Mubayyadh dalam bukunya “Ensiklopedia Akhir Zaman ” di halaman 739 pada sub judul “Malhamah ‘Uzhma” menjelaskan/berpendapat bahwa yang dimaksud berjarak 6 tahun dengan penaklukan Konstantinopel adalah pertempuran kolosal yang terjadi di Syam/ Al-Malhamah Al-Kubro I (seperti apa yang telah kami paparkan di awal tulisan ini juga ). Setelah pertempuran di Syam , berjarak 6 tahun kemudian akan takluk kota Konstantinopel, dan sebelumnya (di masa di berjalannya waktu 6 tahun tersebut) , Baitul Maqdis akan makmur & kota Madinah akan runtuh, seperti yang sudah kami jelaskan di atas.
- “dan pembukaan kota Konstantinopel adalah tanda keluarnya Dajjal” .Syaikh Al-Mubayyadh mengatakan bahwa setelah perang antara TM vs Ar-Rum, 6 tahun kemudian Konstantinopel ditaklukan, kemudian Dajjal muncul. Berikut hadist yang mendasarinya :حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ الرُّومُ بِالْأَعْمَاقِ أَوْ بِدَابِقٍ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِمْ جَيْشٌ مِنْ الْمَدِينَةِ مِنْ خِيَارِ أَهْلِ الْأَرْضِ يَوْمَئِذٍ فَإِذَا تَصَافُّوا قَالَتْ الرُّومُ خَلُّوا بَيْنَنَا وَبَيْنَ الَّذِينَ سَبَوْا مِنَّا نُقَاتِلْهُمْ فَيَقُولُ الْمُسْلِمُونَ لَا وَاللَّهِ لَا نُخَلِّي بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ إِخْوَانِنَا فَيُقَاتِلُونَهُمْ فَيَنْهَزِمُ ثُلُثٌ لَا يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ أَبَدًا وَيُقْتَلُ ثُلُثُهُمْ أَفْضَلُ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ اللَّهِ وَيَفْتَتِحُ الثُّلُثُ لَا يُفْتَنُونَ أَبَدًا فَيَفْتَتِحُونَ قُسْطَنْطِينِيَّةَ فَبَيْنَمَا هُمْ يَقْتَسِمُونَ الْغَنَائِمَ قَدْ عَلَّقُوا سُيُوفَهُمْ بِالزَّيْتُونِ إِذْ صَاحَ فِيهِمْ الشَّيْطَانُ إِنَّ الْمَسِيحَ قَدْ خَلَفَكُمْ فِي أَهْلِيكُمْ فَيَخْرُجُونَ وَذَلِكَ بَاطِلٌ فَإِذَا جَاءُوا الشَّأْمَ خَرَجَ فَبَيْنَمَا هُمْ يُعِدُّونَ لِلْقِتَالِ يُسَوُّونَ الصُّفُوفَ إِذْ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّهُمْ فَإِذَا رَآهُ عَدُوُّ اللَّهِ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ فَلَوْ تَرَكَهُ لَانْذَابَ حَتَّى يَهْلِكَ وَلَكِنْ يَقْتُلُهُ اللَّهُ بِيَدِهِ فَيُرِيهِمْ دَمَهُ فِي حَرْبَتِهِTelah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Mu’alla bin Manhsur telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal, telah menceritakan kepada kami Suhail dari ayahnya dari Abu Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga bangsa Romawi turun ke medan perang di suatu tempat bernama A’maq atau Dabiq, sehingga ada sekelompok pasukan dari Madinah yang keluar menghadapi mereka. Mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi ketika itu. Dan tatkala mereka berhadapan, pasukan Romawi berkata: ‘Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang menawan kami! ‘ Kaum muslimin menjawab: ‘Tidak, demi Allah, kami tidak akan membiarkan kalian memerangi saudara-saudara kami.’ Maka terjadilah peperangan antara mereka. Lalu ada sepertiga yang kalah dimana Allah tidak akan mengampuni dosa mereka untuk selamanya, dan sepertiga lagi terbunuh sebagai sebaik-baik para syuhada’ di sisi Allah, dan sepertiga lagi Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Mereka tidak akan ditimpa sebuah fitnah untuk selamanya, lalu selanjutnya mereka menaklukkan kostantinopel. Dan ketika mereka sedang membagi-bagi harta rampasan perang dan tengah menggantungkan pedang-pedang mereka pada pohon zaitun, tiba-tiba setan meneriaki mereka ‘Sesungguhnya Al Masih telah muncul di tengah-tengah keluarga kalian, ‘ merekapun berhamburan keluar, dan ternyata itu hanyalah kebohongan belaka. Ketika mereka mendatangi Syam, ia muncul. Dan ketika mereka sedang mempersiapkan peperangan dan sedang merapikan barisan, tiba-tiba datanglah waktu shalat, dan turunlah Nabi Isa bin Maryam Shallallahu ‘alaihi wa Salam, lalu ia mengimami mereka. Dan apabila musuh Allah (Dajjal) melihatnya, niscaya ia akan meleleh sebagaimana garam yang mencair di dalam air, meskipun seandainya saja ia membiarkannya nantinya ia juga akan meleleh lalu binasa akan tetapi Allah menginginkan ia membunuhnya dengan tangannya lalu memperlihatkan kepada mereka darahnya yang berada di ujung tombaknya.” (HR. MUSLIM, Shahih Muslim, kitab Al-Fitan wal Malahim, hadist no. 2897 ( Muslim bis syarh An-Nawawi (9/912))
Ad-Dukhan / Kabut Asap
Ada hal yang penting yang harus diperhatikan juga, yaitu bahwa kita sudah melewati masa Al-Malhamah Al-Kubro I, yang kita tau perang tersebut terjadi di era modern dengan persenjataan modern.
Namun 6 tahun kemudian pada saat penaklukan Kota Konstantinopel, gambaran pertempuran/persenjataan pada saat itu adalah pasukan kaum muslimin bersenjatakan pedang-pedang yang digantungkan di pohon Zaitun, artinya ini adalah peperangan dengan senjata tradisional (pedang, tombak, panah, dsb. ).
Perubahan penggunaan senjata dari senjata modern ke senjata tradisional ini menurut para ulama yang meneliti peristiwa akhir zaman, disebabkan karena ada peristiwa besar yang menyebabkan “matinya teknologi modern”. Maksudnya matinya/tidak dapat digunakannya segala peralatan yang dijalankan dengan mesin mekanikal atau elektronikal.
Hal ini secara teori ilmu fisika disebabkan oleh peristiwa dahsyat yaitu badai/ ledakan gelombang elektromagnetik yang mengacaukan kelistrikan dan kemagnetan di bumi. Ledakan elektromagnetik ini akibat tumbukan benda langit yang berukuran besar dengan bumi (meteor yang jatuh ke bumi), yang sudah diprediksi oleh para astronom sejak tahun 2000M , bahwa akan ada asteroid yang akan menabrak bumi dan tidak bisa dihindari.
Para ulama kemudian menyimpulkan/berpendapat bahwa peristiwa inilah (Asteroid besar menabrak Bumi) penyebab peristiwa “Ad-Dukhan” , yaitu kabut asap panas yang meliputi bumi selama 40 hari 40 malam.
Menurut tinjauan saintis bahwa peristiwa ini pula yang akan mematikan teknologi modern, sehingga persenjataan/peperangan yang terjadi di masa setelah itu adalah peperangan dengan persenjataan tradisional (pedang, tombak, panah dsb).
Jika benar begitu, maka kita bisa menyimpulkan bahwa Ad-Dukhan terjadi sebelum penaklukan Konstantinopel. Pertanyaan yang harus juga ditanyakan, bagaimana terhadap pembaiatan Al-Mahdi? Apakah Ad-Dukhan terjadi sebelum Al-Mahdi dibaiat/ muncul, ataukah sesudah Al-Mahdi muncul?? Maka kita perlu merujuk/memperhatikan kepada hadist-hadist yang mengaitkan kejadian/tanda di Langit dengan Al-Mahdi, di antaranya :
- Dari All bin Abdullah bin Abbas, dia berkata : “Al-Mahdi tidak akan keluar sampai munculnya tanda yang menyertai terbitnya matahari.” (HR. Abdurrazzaq pada Mushannaf-nya, dan Nu’aim dalam Al-Fitan. Al-Bustawi berkata tentang atsar ini, “Sanadnya shahih dan para perawinya seluruhnya tsiqat Lihat Al-Bustawi Al-Mahdi Al-Muntazhar (220))
- diriwayatkan dari Husain bin Ali , dia berkataApabila kalian melihat tanda di langit, api besar dari arah timur, muncul selama beberapa malam, maka pada saat itu orang-orang menjadi lapang, karena itu adalah kedatangan Al-Mahdi (‘Uqad Ad-Durar (106))
- Dari Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dia berkata: Apabila kalian melihat api dari arah timur, selama 3 hari atau 7 hari, maka jatuhkanlah diri kalian pada kelapangan keluarga Muhammad (‘Uqad Ad-Durar (106))
- Dan sebuah bintang yang dilemparkan menerangi sebagaimana meneranginya bulan, kemudian bintang itu menggulung dirinya sebagaimana menggulungnya ular, sehingga kedua ujungnya hampir bertemu, dilemparkan dengannya menjadi panah dan bintang yang menukik dari langit, diiringi dengan suara yang keras hingga jatuh di wilayah timur, malapetaka besar menimpa manusia karenanya Nu’aim: Al-Fitan (160), muhaqiq kitab ini menyatakan bahwa sanadnya hasan
- berbentuk tonggak dari api, terbit dari arah timur, semua penduduk bumi melihatnya. Siapa saja yang mendapati itu maka hendaklah dia mempersiapkan untuk keluarganya makanan selama setahun. (Nuaim Al-Fitan. 150)
- Ka’ab berkata tentang tanda yang akan nampak di langit:Itu adalah bintang yang terbit dari timur, menerangi penduduk bumi sebagaimana terangnya bulan pada malam purnama Nu’aim: Al-Fitan (152), pada atsar ini ada keterputusan (inqitha’)
Atsar/ Hadist-hadist di atas menjelaskan bahwa akan ada sebuah tanda menyerupai matahari atau bintang berekor yang berputar-putar selama kurang lebih 3-7 hari di sebelah timur, dan terlihat jelas pada saat terbitnya matahari, juga dapat dilihat dari seluruh wilayah di dunia.
Syaikh Al-Mubayyadh berdasarkan hadist dan penuturan astronom akan dampak/efek tumbukan Asteroid besar terhadap Bumi, menghubungkan munculnya tanda di langit berupa api atau bintang berekor dengan Ad-Dukhan. Artinya penyebab Ad-Dukhan (kabut Asap) tidak lain adalah akibat adanya benda langit yang besar yang jatuh di daratan Bumi, menyebabkan ledakan yang terdengar dari seluruh dunia dan kabut asap yang akan menyebar meliputi seluruh dunia.
Munculnya tanda (di langit) ini, menurut intepretasi kami besamaan /lebih dulu beberapa hari dari kemunculan Al-Mahdi. Namun pada saat Al-Mahdi muncul, Ad-Dukhan belumlah terjadi, benda langit tersebut belum memasuki Atmosfir Bumi/belum jatuh ke Bumi, baru terlihat muncul di dekat Bumi, sehingga dapat dilihat oleh penduduk Bumi. Beberapa saat setelah Al-Mahdi dibaiat dan terjadi peperangan, barulah benda langit ini menghantam Bumi dan bisa jadi inilah yang menyebabkan “penenggelaman besar” di timur dan di Barat, yang menyebabkan kondisi daratan dan lautan di beberapa wilayah di Bumi berubah drastis. Kami memperkirakan demikian karena tidak ada hadist atau atsar yang menerangkan dengan jelas bahwa kabut Asap (Ad-Dukhan) meliputi Al-Mahdi pada saat pembaiatan, sehingga kami berasumsi bahwa pada saat pembaiatan belum terjadi Ad-dukhan. Artinya, munculnya Al-Mahdi dapat diketahui oleh pengguna teknologi internet di seluruh dunia (bila memang tanda di langit tersebut tidak mempengaruhi gelombang sinyal alat telekomunikasi/internet). Karena sebelum terjadinya tumbukan asteroid, teknologi modern masih dapat berjalan dengan normal.
Hadist-hadist di atas juga memerintahkan jika kita menemui tanda seperti yang digambarkan, maka “jatuhkanlah diri kalian pada kelapangan keluarga Muhammad” maksudnya menurut intepretasi kami: Bagi siapapun umat Islam, yang telah melihat tanda di langit sesuai gambaran di atas, maka dipastikan / yakinlah bersama itu muncul Al-Mahdi, bagi siapa yang tidak melihat langsung dibaiatnya Al-Mahdi, maka bila melihat tanda dilangit di manapun kita berada berbaiatlah kepada Al-Mahdi, berikrarlah untuk bersama dengannya dengan manhajnya memerangi orang-orang kafir.
Huru-hara di Hijaz menjelang dibaiatnya Al-Mahdi
Rasulullah menjelaskan dalam sebuah hadist حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِ أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ صَالِحٍ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ صَاحِبٍ لَهُ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُونَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيمَةَ كَلْبٍ فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُلْقِي الْإِسْلَامُ بِجِرَانِهِ فِي الْأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ قَالَ أَبُو دَاوُد قَالَ بَعْضُهُمْ عَنْ هِشَامٍ تِسْعَ سِنِينَ و قَالَ بَعْضُهُمْ سَبْعَ سِنِينَ حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَقَالَ تِسْعَ سِنِينَ قَالَ أَبُو دَاوُد و قَالَ غَيْرُ مُعَاذٍ عَنْ هِشَامٍ تِسْعَ سِنِينَ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْعَوَّامِ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَحَدِيثُ مُعَاذٍ أَتَمُّ. Telah menceritakan kepada kami [Muhammad Ibnul Mutsanna] berkata, telah menceritakan kepada kami [Mu’adz bin Hisyam] berkata, telah menceritakan kepadaku [Bapakku] dari [Qatadah] dari [Shalih Abu Al Khalil] dari [Sahabatnya] dari [Ummu Salamah] isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Akan terjadi perselisihan saat matinya khalifah, lalu seorang laki-laki (Al Mahdi) akan keluar dari Madinah pergi menuju Makkah. Lantas beberapa orang dari penduduk Makkah mendatanginya, mereka memaksanya keluar (dari dalam rumah) meskipun ia tidak menginginkannya. Orang-orang itu kemudian membaiatnya pada suatu tempat antara Rukun (Hajar Asawad) dan Maqam (Ibrahim). Lalu dikirimlah sepasukan dari penduduk Syam untuk memeranginya, tetapi pasukan itu justru ditenggelamkan oleh (Allah) di Al Baida, tempat antara Makkah dan Madinah. Maka ketika manusia melihat hal itu, orang-orang shalih dari Syam dan orang-orang terbaik dari penduduk Irak membaiatnya antara rukun dan Maqam. Lalu tumbuhlah seorang laki-laki dari bangsa Quraisy, paman-pamannya dari suku Kalb, ia lalu mengirimkan sepasukan untuk memerangi mereka (orang-orang yang berbaiat kepada Al mahdi) namun mereka dapat mengalahkan mereka (pasukan yang dikirim oleh lelaki Quraisy dari suku Kalb). Alangkah ruginya orang yang tidak ikut serta dalam pembagian ghanimah perang melawan suku Kalb. ia (Al Mahdi) lalu membagi ghanimah, dan membina manusia dengan sunnah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan Islam ke semua penduduk bumi. Ia berkuasa selama tujuh tahun, kemudian wafat dan dishalati oleh kaum muslimin.” Abu Dawud berkata, “Sebagian mereka menyebutkan dari Hisyam, ” selama sembilan tahun.” Dan sebagian yang lain menyebutkan, “Selama tujuh tahun.” Telah menceritakan kepada kami [Harun bin Abdullah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdu Ash Shamad] dari [Hammam] dari [Qatadah] dengan hadits yang sama. Beliau mengatakan, “sembilan tahun.” Abu Dawud berkata, “Selain Mu’adz menyebutkan dari Hisyam, “selama sembilan tahun.” Telah menceritakan kepada kami [Ibnul Mutsanna] berkata, telah menceritakan kepada kami [Amru bin Ashim] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Al Awwam] berkata, telah menceritakan kepada kami [Qatadah] dari [Abu Al Khalil] dari [Abdullah bin Al Harits] dari [Ummu Salamah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits ini, namun hadits Mu’adz lebih lengkap.”
Penjelasan hadist di atas , menurut intepretasi kami , sebagai berikut
- “Akan terjadi perselisihan saat matinya khalifah”
Yang dimaksud khalifah (خَلِيفَةٍ) di dalam hadist ini bukanlah Imam kaum muslimin , kata”khalifah” di sini dalam struktur bahasa Arab tanpa “alif-lam” (bentuk nakirah) menunjukkan kepada penguasa/raja secara umum. Bila menggunakan “alif-lam” (bentuk Ma’rifat) , maka ini menunjukkan kekhususan yaitu khalifah/Imam bagi kaum muslimin. Lalu siapa yang dimaksud khalifah yang wafat dalam hadist di atas?
Syaikh Al-Mubayyadh dalam buku “Ensiklopedia Akhir Zaman” halaman. 725 , menjelaskan bahwa kata “khalifah” dalam hadist ini menunjuk kepada seorang raja dari kerajaan yang masih menggunakan sistem dinasti (mewariskan kerajaannya berdasar kepada sistem warisan/ keturunannya). Lalu Raja siapa yang dimaksud? Dan siapa yang berselisih sesudah kematiannya?
Untuk menjawab pertanyaan di atas maka petunjuknya ada dalam hadist lainnya : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى وَأَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ فَقَالَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Yahya] dan [Ahmad bin Yusuf] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] dari [Sufyan At Tsauri] dari [Khalid bin Al Khadza] dari [Abu Qilabah] dari [Abu Asma Ar Rahabi] dari [Tsauban] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kelak tiga orang akan berperang didekat perbendaharaan kalian ini (yaitu Ka’bah), dan kesemuanya adalah anak khalifah. Dan tidak ada satupun dari mereka yang menang menguasainya (Ka’bah), lalu muncullah bendera-bendera hitam dari wilayah timur, mereka lantas memerangi kalian dengan peperangan sengit yang sama sekali belum pernah dilakukan kaum manapun. Jika kalian melihatnya, maka berbaiatlah kepadanya walaupun sambil merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia adalah khalifah Allah Al Mahdi.”
Dalam hadist Muhammad bin Yahya di atas di jelaskan “Raja” yang dimaksud adalah raja yang menjaga “perbendaharaan Kalian” . Sedangkan yang dimaksud “perbendaharaan kalian” ada yang memaknai “Ka’bah” dan juga ada yang memaknai “gunung emas di sungai Eufrat”. Namun kami lebih cenderung kepada pendapat pertama, bahwa yang dimaksud perbendaharan kalian adalah ka’bah, karena di masa ini, di sepanjang sungai Eufrat tidak ada kerajaan dengan sistem dinasti, akan tetapi kerajaan tersebut bisa kita temui di sisi Ka’bah, yaitu kerajaan Arab Saudi , dan yang berselisih/berperang adalah anak raja / putra mahkota. Banyak pemerhati hadist akhir zaman mengatakan bahwa raja/khalifah yang mati (yang kemudian anak-anaknya/pewaris tahtanya berselisih) adalah Raja Abdullah ibn Abdul Aziz Al-Saud , mati pada Januari 2015, setelahnya digantikan oleh Salman bin Abdul Aziz sebagai gantinya. Tidak lama kemudian Raja Salman dikudeta oleh anaknya sendiri yaitu Muhammad bin Salman. Raja Salman secara de facto tidak lagi tampil sebagai pembuat kebijakan di Saudi dan melimpahkan kuasanya ke anaknya tersebut dengan alasan sakit-sakitan. Akan tetapi seharusnya jika Raja Salman lengser atau tidak mampu membuat kebijakan-kebijakan seharusnya yang tampil ke depan adalah Pangeran Muhammad bin Nayef, karena pada awalnya Raja Salman menunjuknya sebagai pewaris mahkota untuk menggantinya. Namun tiba-tiba, kebijakan dirubah, yang naik sebagai wakil Raja Salman dalam pemerintahan adalah anaknya yaitu Muhammad bin Salman.
Pangeran Muhammad bin Nayef tidak hanya dikhianati tapi juga dicopot gelar “putra mahkota” darinya sehingga ia dan keturunannya tidak lagi bisa mewarisi kepemimpinan dalam kerajaan. Penyerahan kuasa kerajaan kepada Muhammad bin Salman dari raja Salman adalah “kudeta” yang didukung/ diprakarsai langsung sebenarnya oleh Israel dan Ar-Rum, hal ini terbukti dengan tekanan/ancaman langsung yang dilancarkan oleh mereka (Zionist) kepada pihak Raja Salman (secara khusus) dan pihak lain yang berpotensi melakukan perlawanan militer kepada putra mahkota pilihan zionist, yaitu “Muhammad bin Salman” , dengan mengirimkan 18 jet tempur dari Israel pada 23 Juni 2017 . Komposisi pasukan udara yang dikirim Israel adalah pesawat tempur jet F-16, F-15, kemudian 2 pesawat angkut Gulfstream, 2 pesawat tanker dan 2 pesawat Hercules. Ini menunjukkan dukungan penuh Israel-AS kepada MBS (Muhammad Bin Salman), sekaligus ini adalah jawaban perubahan sikap Raja Salman yang sejak awal tidak mau menjadikan anak kandungnya sebagai Putra mahkota pewaris kearajaan, berubah 180 derajat mendukung segala yang dilakukan MBS.
Tidak lama setelah prosesi pengangkatan MBS selesai, ada sekitar 40 pangeran dan menteri yang menjabat kabinet ditangkap dan ditahan oleh MBS dengan alasan korupsi, bahkan kabarnya ada diantaranya yang dihukum mati karena tuduhan (akan mengkudeta MBS dan Raja Salman).
Hal ini (dukungan zionist kepada MBS) menandakan bahwa pertama : Zionist sangat mengantisipasi akan munculnya Al-mahdi, kami yakin akan hal ini sangat berkaitan dengan antisipasi Zionist terhadap kabar akan munculnya pemimpin umat Islam seluruh dunia, sehingga kami pernah menjelaskan di atas bahwa salah satu kelompok dari pasukan yang akan menyerang Al-Mahdi/Baitullah dari arah Syam adalah pasukan khusus Israel. Yang kedua, dengan mengendalikan dan mendukung MBS, Israel & Ar-Rum akan membuat Arab Saudi (baca : MBS) percaya diri memulai perang dengan kekuatan disekitarnya, yaitu Syiah di Yaman, Syiah Iran, Syiah Hezbollah di Lebanon, dan Syiah Nushairi+Hezbollah di Suriah/Syam. dengan begitu Israel dan Ar-Rum beranggapan akan mencegah munculnya Al-Mahdi dari Hijaz (Mekkah-Madinah).
Hari ini ketegangan di dalam negeri semakin memuncak, begitupun dengan Syiah semakin memanas. MBS hari ini merasa yakin /percaya diri bahwa jika Arab Saudi perang dengan kekuatan Syiah disekelilingnya , ia akan dibela oleh Israel dan Amerika. Padahal Israel dan AS sedang menipunya, mereka sengaja memperlihatkan dukungannya saat ini dengan menggempur basis pertahanan Syiah di Suriah dan sandiwara perang dengan Iran, untuk mempercepat terjadinya konfrontasi antara Arab Saudi dan Syiah di Suriah dan Iran. Hari ini perang dengan Syiah Yaman sudah berhasil pecah, dan menguras tenaga Arab Saudi, tinggal menunggu waktu akan ada serangan dari Syam(Suriah) dan Iran.
Tidak hanya MBS yang tertipu oleh Israel-AS, tapi sebagian besar umat Islam hari ini yang sedang Euforia dengan hengkangnya Ar-Rum (AS) dari Afghanistan, tidak sadar akan datangnya perang besar yang direncanakan musuh Allah ini terhadap Hijaz (Baitullah).
Sedikit menyinggung tentang mundurnya tentara Ar-Rum dari Afghanistan, kemudian dari sejumlah front pertempuran di timur tengah lainnya , kemudian digantikannya pasukan mereka oleh pasukan drone, menurut intepretasi kami ada 2 hal yang sebenarnya terjadi , yang pertama Ar-Rum-Zionist sedang menyiapkan perang /kekuatan darat besar-besaran untuk menyerang ke jantung umat Islam yaitu Hijaz. Yang kedua Ar-Rum dan Yahudi(Zionist) sedang menyiapkan sebuah peperangan yang dihadapi dengan senjata-senjata tradisional /Non modern /non elektronik /Non mekanik. Karena mereka tau, bahwa pertempuran besar dengan Al-Mahdi adalah pertempuran dengan persenjataan ini. Itulah alasan kenapa AS meninggalkan sebagian besar perlengkapan perangnya di Afghanistan, dan hanya mengangkut pasukannnya, karena semua itu (mereka tau) hanya akan jadi “sampah” sebntar lagi. Zionist juga sudah mempersiapkan perang ini dengan mencegah hijrahnya kaum muslimin menuju hijaz dengan “protokol pandemi (baca:plandemi)” , melemahkan secara umum kaum muslimin & mengontrol mobilisasi setiap orang dengan barcode (vaxinasi), dan mengontrol transaksi keuangan setiap orang dengan dan mata uang tunggal digital. Jadi dalam waktu dekat, kita tidak sedang menunggu perang Korea, kita tidak sedang menunggu perang AS vs Rusia atau perang Israel vs Iran, tapi yang tepat berada di hadapan kita adalah peperangan besar di Hijaz yaitu koalisi Kuffar VS Al-Mahdi dan pasukannya .
Pasukan Penolong Al-Mahdi
Dari hadist Muhammad bin Yahya :”lalu muncullah bendera-bendera hitam dari wilayah timur, mereka lantas memerangi kalian dengan peperangan sengit yang sama sekali belum pernah dilakukan kaum manapun. Jika kalian melihatnya, maka berbaiatlah kepadanya walaupun sambil merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia adalah khalifah Allah Al Mahdi.”
Siapakah yang dimaksud bendera-bendera hitam dari timur?
Hadist berikut ini akan menjawabnya :
- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِ أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ صَالِحٍ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ صَاحِبٍ لَهُ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُونَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيمَةَ كَلْبٍ فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُلْقِي الْإِسْلَامُ بِجِرَانِهِ فِي الْأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ قَالَ أَبُو دَاوُد قَالَ بَعْضُهُمْ عَنْ هِشَامٍ تِسْعَ سِنِينَ و قَالَ بَعْضُهُمْ سَبْعَ سِنِينَ حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَقَالَ تِسْعَ سِنِينَ قَالَ أَبُو دَاوُد و قَالَ غَيْرُ مُعَاذٍ عَنْ هِشَامٍ تِسْعَ سِنِينَ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْعَوَّامِ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي الْخَلِيلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَحَدِيثُ مُعَاذٍ أَتَمُّ. Telah menceritakan kepada kami [Muhammad Ibnul Mutsanna] berkata, telah menceritakan kepada kami [Mu’adz bin Hisyam] berkata, telah menceritakan kepadaku [Bapakku] dari [Qatadah] dari [Shalih Abu Al Khalil] dari [Sahabatnya] dari [Ummu Salamah] isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Akan terjadi perselisihan saat matinya khalifah, lalu seorang laki-laki (Al Mahdi) akan keluar dari Madinah pergi menuju Makkah. Lantas beberapa orang dari penduduk Makkah mendatanginya, mereka memaksanya keluar (dari dalam rumah) meskipun ia tidak menginginkannya. Orang-orang itu kemudian membaiatnya pada suatu tempat antara Rukun (Hajar Asawad) dan Maqam (Ibrahim). Lalu dikirimlah sepasukan dari penduduk Syam untuk memeranginya, tetapi pasukan itu justru ditenggelamkan oleh (Allah) di Al Baida, tempat antara Makkah dan Madinah. Maka ketika manusia melihat hal itu, para Abdal (pengganti-pengganti) dari Syam dan orang-orang terbaik dari penduduk Irak membaiatnya antara rukun dan Maqam. Lalu tumbuhlah seorang laki-laki dari bangsa Quraisy, paman-pamannya dari suku Kalb, ia lalu mengirimkan sepasukan untuk memerangi mereka (orang-orang yang berbaiat kepada Al mahdi) namun mereka dapat mengalahkan mereka (pasukan yang dikirim oleh lelaki Quraisy dari suku Kalb). Alangkah ruginya orang yang tidak ikut serta dalam pembagian ghanimah perang melawan suku Kalb. ia (Al Mahdi) lalu membagi ghanimah, dan membina manusia dengan sunnah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan Islam ke semua penduduk bumi. Ia berkuasa selama tujuh tahun, kemudian wafat dan dishalati oleh kaum muslimin.” Abu Dawud berkata, “Sebagian mereka menyebutkan dari Hisyam, ” selama sembilan tahun.” Dan sebagian yang lain menyebutkan, “Selama tujuh tahun.” Telah menceritakan kepada kami [Harun bin Abdullah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdu Ash Shamad] dari [Hammam] dari [Qatadah] dengan hadits yang sama. Beliau mengatakan, “sembilan tahun.” Abu Dawud berkata, “Selain Mu’adz menyebutkan dari Hisyam, “selama sembilan tahun.” Telah menceritakan kepada kami [Ibnul Mutsanna] berkata, telah menceritakan kepada kami [Amru bin Ashim] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Al Awwam] berkata, telah menceritakan kepada kami [Qatadah] dari [Abu Al Khalil] dari [Abdullah bin Al Harits] dari [Ummu Salamah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits ini, namun hadits Mu’adz lebih lengkap.”
penjelasan hadist ini, menurut intepretasi kami, sebagai berikut :1.“Terjadi perselisihan sesudah kematianseorang khalifah” , maksud hadist ini sudah kami jelaskan sebelumnya yaitu perselisihan di antara putra mahkota pewaris kerajaan Saudi Arabia setelah matinya Raja Abdullah.
2.“lantas seorang lelaki dari kalangan penduduk Madinah keluar melarikan diri ke Mekah” , menurut intepretasi kami dia adalah Al-Mahdi yang waktu lari dari Madinah dan sampai ke Mekkah belum mengetahui bahwa dirinya adalah Al-mahdi, ia mengetahui banyak terjadi fitnah, lalu ia berlindung di Mekkah.
3.“Lantas beberapa orang dari penduduk Makkah mendatanginya, mereka memaksanya keluar (dari dalam rumah) meskipun ia tidak menginginkannya. Orang-orang itu kemudian membaiatnya pada suatu tempat antara Rukun (Hajar Asawad) dan Maqam (Ibrahim)”. Maksudnya : sosok Al-Mahdi dipaksa para ‘alim untuk dibaiat, ia sebenarnya tidak mau. Kemudian setelah ia diancam dengan ancaman yang keras, para ulama ada yang menjelaskan sampai diancam akan dipukul kepalanya dengan pedang(dibunuh) jika ia tidak mau menerima baiat, maka ia pun menerima baiat yang dilaksanakan di antara Rukun(Hajar Aswad ) dan maqam ( Ibrahim)
hadist mengenai para ‘Alim yang berkumpul di Mekkah, menunggu datangnya Al-Mahdi dari Madinah, kemudian merekalah yang pertama kali membaiat Al-mahdi : “Apabila perdagangan dan jalan-jalan sudah terputus, fitnah semakin banyak, muncul 7 lelaki berilmu dari berbagai perjuru, tanpa perjanjian lebih dahulu, masing-masing darimereka dibaiat oleh 300 lebih sekian belas orang, sampai mereka berkumpul di Mekah hingga bertemulah 7 lelaki itu. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, Apa yang mendorong kalian datang ke sini?” Mereka menjawab, “Kami datang untuk mencari orang yang pantas dan kapabel untuk meredakan fitnah-fitnah ini dengan kedua tangannya”. HR. Nu’aim bin Hammad, hadist no. 949 (Al-Fitan (241))
Dalam hadist di atas juga digambarkan situasi “perdagangan dan jalan-jalan sudah terputus” , bukankah ini yang sedang terjadi di seluruh dunia ? Akhir-akhir ini kita mengenal kata “Lockdown” di banyak tempat di dunia, termasuk di Indonesia. Gelombang plandemi belum selesai, varian virus baru bermunculan, setiap orang diwajibkan ikuti protokol dan wajib vaxin, ini bentuk kezhaliman yang memuncak pada umat manusia. Tidak terkecuali di Hijaz, di sana juga menerapkan “Lockdown”. Ini semakin menguatkan bukti bahwa Al-Mahdi muncul tidak lama lagi.
4.“Lalu dikirimlah sepasukan dari penduduk Syam untuk memeranginya, tetapi pasukan itu justru ditenggelamkan oleh (Allah) di Al Baida, tempat antara Makkah dan Madinah”. Penjelasan : peristiwa ini (pembaiatan Al-Mahdi) diketahui oleh musuh yang ada di Syam, yang sejak lama memperhatikan dan terlibat dalam perselisihan di dalam kerajaan Saudi, dan sudah mengantisipasi peristiwa pembaiatan ini dengan membentuk pasukan khusus yang bertugas untuk membunuh orang yang dibaiat sebagai Al-Mahdi. Kami sangat yakin pasukan khusus tersebut diprakarsai oleh Israel dan AS, yang juga berkoalisi dengan bani Kalbiyya /Nushairi di suriah (Basar Assad) dan sekte/militan syi’ah lainnya dari Libanon dan Suriah. Israel, Suriah dan Libanon disebut juga wilayah Syam. Jadi inilah pasukan dari arah Syam yang akan ditenggelamkan di gurun pasir antara Madinah dan Mekkah.
5.“Maka ketika manusia melihat hal itu, para Abdal (pengganti-pengganti) dari Syam dan orang-orang terbaik dari penduduk Irak membaiatnya antara rukun dan Maqam”. Penjelasan: Peristiwa penenggelaman pasukan di Al-Baida, adalah tanda yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam yang menantikan Al-Mahdi. Tanda ini ibarat tanda unik yang memastikan bahwa orang yang baru saja dibaiat di Baitullah adalah benar Al-Mahdi tanpa keraguan. Umat Islam yang paling terdepan dalam menyambut munculnya Al-Mahdi adalah kelompok Thaifah Manshurah. Mereka adalah 1/3 sisa pasukan Thaifah Manshurah yang masih ada di Syam dan Iraq. Di antara mereka ada yang disebut “Abdal” dari Syam dan orang-orang terpilih dari Iraq. Mereka inilah yang dimaksud pasukan bendera-bendera hitam yang datang dari timur Jazirah Arab.
Siapakah yang dimaksud dengan “para Abdal”? Jawab: menurut Syaikh Al-Mubayyadh di dalam bukunya “Ensiklopedia Akhir Zaman” halaman 708, pada catatan kakinya mengungkapkan : Para Abdal adalah pemimpin yang muncul silih berganti, bila yang satu meninggal maka muncullah yang lain menggantikannya (‘Aun Al-Ma’bud). Penjelasan pengertian ini menurut inteprerasi kami: para Abdal inilah barisan Thaifah Manshurah , pemimpin-pemimpinnya saling menggantikan satu dengan yang lainnya , semuanya berasal dari Quraisy, dimulai dari Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi Al-Quraisy, digantikan oleh Syaikh Ibrahim Al-Awwad (Abu Bakar Al-Baghdadi Al-Quraisy), digantikan oleh Ibrahim Al-Hasyimi , dan seterusnya (jika pemimpin yang satu meninggal dunia akan digantikan dengan yang satunya, sampai mereka menyerahkan kepemimpinan kepada Al-Mahdi. Ada sebuah hadist yang menceritakan hal ini :
Kami sedang bersama Ali as, lalu seseorangbertanya kepadanya tentang Al-Mahdi, Alias berkata, “Alangkah jauhnya.” Kemudian dia membuat lingkaran dengan tangannya 7 kali. Dia berkata, “Itulah Al-Mahdi akan keluar pada akhir zaman, (tandanya yaitu) apabila seseorang berkata, “Allah..Allah..”, dia dibunuh. Lantas Allah Ta’ala menyatukan untuknya satu kaum yang bergerak beriringan bagaikan gumpalan awan yang berarak. Allah mempertautkan di antara hati mereka, sehingga mereka tidak meninggalkannya (kemudian mencari penolong lainnya walaupun) seorang, dan mereka juga tidak bergembira dengan seorang pun (sebagai pengganti pimpinan).Al-Mahdi masuk ke tengah-tengah mereka sebagaimana persiapan anggota pasukan perang Badar, tiada orang-orang awal yang mendahului mereka dan tiada orang-orang akhir yang menyusul mereka. Sebagaimana jumlah pasukan Thalut yang melewati sungai bersamanya“. (Abu Thufail berkata,“Ibnul Hanafiyyah berkata, “Apakah engkau menginginkannya?” Aku berkata, “Ya.”Dia berkata, “Sesungguhnya Al-Mahdi akan keluar dari antara dua papan kayu ini.” Aku berkata, “Tidak bisa tidak, demi Allah, aku tidak memperlihatkan keduanya sampai aku mati. Lalu dia mati di sana yakni Mekkah, Allah Ta’ala menjaganya.” HR. Al-Hakim, kitab Al-Fitan, hadits no. 8659, dia berkata, “Hadits ini shahih berdasarkan syarat dua syaikh (Al-Bukhari dan Muslim), tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.”Adz-Dzahabi bersikap diam terhadapnya (Al-Mustadrak (4/596)). Al-Bustawi berkata, “Sanad hadits ini berderajat hasan.” (Al-Bustawi: Al-Mahdi Al-Muntazhar (208)].
Pada potongan hadist di atas, diceritakan tentang para Abdal , selepas pertempuran besar di Syam (di mana syariat Allah ditegakkan kemudian mereka dibunuh(maksudnya diperangi) oleh koalisi Kuffar). Pasukan (Thaifah Manshurah) yang tersisia, mereka berkelompok dan beriringan bagai iring-iringan awan (ada jarak antar kelompok) , di antara mereka saling mengetahui kelompok lainnya, mereka tidak meninggalkan pemimpin mereka walau keadaan bertambah sulit dan mereka tidak mencari penolong lainnya/tidak mengangkat atau mencari pemimpin lainnya untuk mengeluarkan mereka dari kesulitan (artinya mereka memegang kuat baiat kepada pemimpinnya. Jika salah seorang pemimpin digantikan, mereka tidak bergembira atas kedudukannya sebagai pemimpin, mereka menganggap sama semua pemimpinnya (juga sebagaimana generasi para sahabat, tidak menyukai jabatan, namun merasa berat karena hal itu adalah amanah). AL-mahdi masuk ke tengah-tengah mereka (setelah penenggelaman pasukan dari syam) sebagaimana persiapan perang Badar yaitu :
- mereka datang berkelompok-kelompok, karena perang Badar disiapkan sebelumnya dengan dibentuknya Ma’rakah-Ma’rakah (kelompok-kelompok perang kecil di atas 100 orang, bila kurang dari 100 orang disebut Sariyyah), Kelompok-kelompok Ma’rokah ini kemudian yang melancarkan peperangan kepada orang-orang kafir dan kepada penguasa Hijaz (Bani Kalb).
- persenjataan mereka seperti pasukan Badr, yaitu bukan dengan persenjataan berat dan tidak memakai perlengkapan perang lainnya kecuali 1 jenis senjata yang dipegang. Karena pasukan Badr dulu, disiapkan untuk menyergap kafilah dagang bukan untuk menghadapi pasukan perang, jadi persiapan mereka aeadanya ( tidak selengkap pada saat menghadapi pasukan perang. )
- jumlah pasukan ini memang tidak banyak, namun pasukan ini yang terbaik, yang sudah teruji ketaatan dan ketaqwaan mereka, seperti pasukan Thalut yang berhasil melewati sungai dan tidak terfitnah dengan kenikmatan lainnya(dunia) kecuali tetap berjihad bersama pemimpin mereka.
- Seperti penjelasan hadist ibnu Mutsanna , mereka keluar dari Syam dan Iraq setelah penenggelaman pasukan musuh dari Syam.
Inilah kondisi 1/3 pasukan Thaifah Manshurah selepas pertempuran besar di Syam dan Iraq, sampai mereka membaiat Al-Mahdi.
Kemudian dikatakan di dalam hadist : mereka (pasukan bendera hitam)lantas memerangi kalian dengan peperangan sengit yang sama sekali belum pernah dilakukan kaum manapun. Jika kalian melihatnya, maka berbaiatlah kepadanya walaupun sambil merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia adalah khalifah Allah Al Mahdi.” Apa maksud “memerangi kalian? ” , apakah berarti memerangi kaum muslimin? . Jawabnya tentu bukan, karena di kalimat akhir ada perintah “Jika kalian melihatnya, maka berbaiatlah kepadanya walaupun sambil merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia adalah khalifah Allah Al Mahdi.” Artinya pasukan ini adalah pasukan yang membela Al-Mahdi (berarti yang memusuhi Al-Mahdi adalah yang kafir/murtad) dan kita diperintah untuk membaiatnya.
Lalu apa maksud “memerangi kalian”? Maksudnya adalah mereka memerangi “orang-orang yang memimpin/menguasai kalian (orang-orang Hijaz(Mekkah-Madinah) sebelum datangnya munculnya Al-Mahdi)”
Siapa dia? Siapa penguasa orang-orang Hijaz sebelum Al-Mahdi? Insyaallah poin ke-6 penjelasan hadist Muhammad Ibnul Mutsanna.
6.“Lalu tumbuhlah seorang laki-laki dari bangsa Quraisy, paman-pamannya dari suku Kalb, ia lalu mengirimkan sepasukan untuk memerangi mereka (orang-orang yang berbaiat kepada Al mahdi) namun mereka dapat mengalahkan mereka (pasukan yang dikirim oleh lelaki Quraisy dari suku Kalb). Alangkah ruginya orang yang tidak ikut serta dalam pembagian ghanimah perang melawan suku Kalb”.Penjelasan menurut intepretasi kami : laki-laki Quraisy yang mempunyai hubungan darah dengan bani Kalb dari jalur ibunya adalah Muhammad bin Salman (atau bisa jadi saudara kandungnya MBS yang lain), dialah penguasa Hijaz sebelum Al-Mahdi dibaiat. Ibunya Ratu Fahda binti Falah Al-Saud , Neneknya berasal dari Latakia, Suriah di mana bani Kalbiyya berkuasa, yaitu : Jamila binti Assad bin Ibrahim Al-Mirhi , saudara laki-laki ibunya/ paman-pamannya MBS berarti berdarah bani Kalb (seperti yang digambarkan di dalam hadist) yang mungkin saja selama inivmenjadi penasehat-penasehatnya dalam membuat kebijakan-kebijakan . Apakah ada hubungan mereka dengan Bani Kalb di Suriah (Rezim Bashar Assad)?? Bisa jadi, bahkan kemungkinan besar ada hubungan (rahasia) diantara mereka, karena MBS dengan aksinya berupa penangkapan dan pengusiran bahkan mungkin pembunuhan atas banyak pangeran dan pejabat kerajaan Saudi, ditengarai bahwa ia akan menghabisi pewaris tahta kerajaan dari keturunan Al-Saud (menggantinya dengan bani Kalb). Itu sebabnya Allah/Rasulullah SAW menyinggung tentang hubungan lelaki quraisy dengan paman-pamannya dari Bani Kalb. Bani Kalb mayoritasnya ada di Suriah, yaitu mereka yang berpaham Syiah Nushairiyah . Latar belakang orang-orang Syiah memang ingin menguasai/mengalahkan Ahlussunnah, menguasai wilayah-wilayahnya, apalagi untuk menguasai/ menghancurkan Baitullah, Mereka ingin merubah Hijaz menjadi negeri Syi’ah. Mereka memanfaatkan ambisi MBS sedangkan MBS tidak tau atau bahkan bisa jadi tidak memperdulikannya (yang penting ambisinya tercapai). Inilah komplotan Bani Kalb, mereka banyak menguasai harta kaum muslimin dengan cara zhalim. Lalu mereka dikejutkan dengan kehadiran Al-Mahdi, kemudian dikalahkan oleh Al-mahdi dan pasukannya, kemudian harta rampasan /ghanimah dari bani Kalb dibagikan (kembali ke Masyarakat) secara adil oleh Al-Mahdi. masyarakat.
7.“Ia (Al Mahdi) lalu membagi ghanimah, dan membina manusia dengan sunnah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan Islam ke semua penduduk bumi. Ia berkuasa selama tujuh tahun, kemudian wafat dan dishalati oleh kaum muslimin”. Penjelasan : setelah Al-Mahdi dibaiat, maka dalam 7 tahun atau 9 tahun masa hidupnya, terjadi penaklukan-penaklukan, dimulai dari penaklukan jazirah arab, Persia, Konstantinopel, Romawi (Ar-Rum), kemudian Dajjal (di negara Israel ). Berikut hadist-hadistnya..
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa’id] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Abdulmalik bin Umair] dari [Jabir bin Samurah] dari [Nafi’ bin Utbah] berkata: Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam suatu peperangan. Ia berkata: Suatu kaum mendatangi nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dari maghrib, mereka mengenakan baju wool, mereka menemui beliau didekat suatu bukit. Mereka berdiri sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam duduk. Ia (Nafi’) berkata: Hatiku berkata: Datangilah mereka dan berdirilah diantara mereka dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam agar mereka tidak menyerang beliau lalu aku berkata: Mungkin beliau berbicara lirih dengan mereka. Aku mendatangi mereka lalu aku berdiri diantara mereka dan beliau. Aku menghafal empat kalimat dari beliau, aku menghitungnya dengan tanganku. Beliau bersabda: “Kalian akan memerangi jazirah arab lalu Allah menaklukkannya, setelah itu Persia lalu Allah menaklukkannya, kemudian kalian memerangi Romawi lalu Allah menaklukkannya, selanjutnya kalian memerangi Dajjal lalu Allah menaklukkannya.” Kemudian Nafi’ berkata: Hai Jabir, kami tidak berpendapat Dajjal muncul hingga Romawi ditaklukkan.
Pertanyaan menarik terkait hadist di atas, yang masih perlu juga kami tanyakan walaupun anda sudah membaca bahwa Al-mahdi akan melawan tentara dari penguasa Saudi. Pertanyaan yang mungkin juga ada di benak anda adalah : “kenapa Al-Mahdi memerangi (penguasa) Jazirah Arab (termasuk Arab Saudi)?”, jawabannya anda bisa kembali membaca tulisan kami dengan tema ” Thaifah Manshurah VS koalisi 80 bendera Ar-Rum” , di sana jelas-jelas terlihat kerjasama/koalisi negara-negara timur tengah/ jazirah arab dengan Amerika /Ar-Rum untuk menghancurkan kekhalif4han yang didirikan Thaifah Manshurah di Syam & Iraq. Bentuk kerjasama antara muslim dan orang kafir untuk membantu si Kafir memerangi muslim lainnya, adalah bentuk kemurtadan yang nyata. Kemurtadan ini pun sebenarnya sudah sejak awal pendirian masing-masing pemerintahan di bawah PBB. Semua negara , termasuk Arab Saudi mengakui dan mentaati hukum /mahkamah Internasional yang dibentuk PBB. Bagaimana bisa mereka yang mengaku hanya berhukum kepada hukum Allah, ternyata mereka juga mengakui hukum buatan orang-orang kafir dan mentaatinya. ??? Ini adalah kesyirikan yang nyata. Karena menyekutukan Allah dalam hak pengaturan (hukum), sama dengan menyekutukan Allah dalam peribadatan.
Syaikh Ali Khudlair Ibnu Khudlair Al Khudlair hafidhahullah berkata: “Orang-orang sekuler begitu juga mereka memiliki tuhan-tuhan yang banyak. Dan mereka itu beragam sesuai apa-apa yang mereka ibadati. Di antara mereka ada yang menyembah Amerika, ada yang ibadah kepada orang-orang barat, ada yang beribadah kepada Rusia, ada yang menyembah tatanan dunia baru, ada yang mengabdi kepada penguasa, ada yang menyembah teori-teori, ada yang menyembah tanah air, ada yang beribadah kepada nasionalisme dan ras serta mereka menyembah para pimpinan dan para pakar mereka. Maka tidak ada perbedaan di antara mereka dalam hal kufur dan riddah(kemurtadan dari Islam).”(AlQawaaid Al Arba’ Allatii Tufarriqu Baina Diinil Muslimiin Wa Diinil Ilmaniyyin :16
Semua bentuk kemusyrikan akan diperangi Al-Mahdi, karena sebab itulah ia memerangi pemerintahan di jazirah Arab.
Alhamdulillah. Kami insyaaLLAH akan melengkapi apa-apa yang mungkin terlewat belum dibahas di tulisan selanjutnya Insyaallah..
Post a Comment