Apakah Fitnah Sarra Itu? Kapan Terjadi Fitnah Sarra?

 Bismillah…

Hadist yang menggambarkan tentang 3 fitnah besar ini adalah :Dari Abdullah bin Umar RA, dia berkata :”Kami duduk-duduk di hadapan Rasulullah, lalu beliau menceritakan tentang fitnah-fitnah, bahkan beliau sangat sering menceritakannya, sampaibeliau menyebut-nyebut fitnah Ahlas. Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah,apakah fitnah ahlas itu?” Beliau bersabda, “Itu adalah melarikan diri dan perang. Kemudian fitnah sarra’, asapnya muncul dari bawah kedua telapak kakiku. Seorang lelaki dari kalangan Ahlul Baitku(keluargaku), dia mendakwakan dirinya bagian dari diriku, padahal dia bukan bagian dariku. Sesungguhnya kekasih ku adalah orang-orang yang bertakwa.Kemudian orang-orang membaiat seorang laki-laki sebagaimana pangkal paha pada tulang rusuk (maksudnya goyah dan tidak teguh). Kemudian fitnah Duhaima (besar dan bencana yang membabibuta), tidak menyisakan seorang pun dari umat ini kecuali fitnah ini menamparnya dengan sebenar-benar tamparan. Ketika dikatakan, Fitnah ini sudah berlalu’, kenyataannya fitnah terus saja berlangsung. Ketika itu seseorang memasuki waktu pagi sebagai orang yang beriman, tetapi memasuki waktu sore sudah menjadi orang kafir. Manusia menjadi dua kelompok, kelompok iman yang tidak ada kemunafikan padanya dan kelompok munafik yang tiada iman padanya. Apabila seperti itu keadaan kalian maka kalian tunggulah Dajjal, pada harinya itu, atau esok harinya”  HR. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, kitab Al-Fitan wa Al-Malâhim; Ahmad, Musnad Al-Mukatstsirîn, hadits no.6173 [Al-Musnad (2/181)]; Al-Hakim, kitab Al-Fitan, haditsno. 8441, dia berkomentar tentang hadits ini, “Hadits ini shahih sanadnya.” Adz-Dzahabi mengakui kebenaran ucapan Al-Hakim (Al-Mustadrak (4/513)]

Singkatnya, menurut intepretasi kami, hadist mengenai fitnah-fitnah besar ini berkorelasi erat dengan hadist “umur umat Islam” yang menjelaskan bahwa umat Islam akan melalui 5 babak/ masa : “Masa kenabian akan datang di tengah-tengah kalian dan akan berlangsung dengan kehendak Allah, kemudian Dia akan mencabut masa kenabian itu jika Dia berkehendak untuk mencabutnya.Kemudian, akan muncul masa khilafah dengan minhaj an-nubuwwah (tuntunanNabi) dan akan terus berlangsung sampai Allah berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian datanglah masa para raja yang hanya menyengsarakan rakyat dan akan terus berlangsung sehingga Allah menghendaki untuk mencabutnya (meng-akhiri masa kekuasaannya). Kemudian muncul lagi penguasa diktator dan akan terus berlangsung sampai Allah menghendaki untuk menghabisi masanya. Kemudianakan muncul lagi sebuah kekhilafahan yang didirikan dengan petunjuk Nabi.”HR. Ahmad: Musnad Al-Kufiyyîn, hadits no. 18436 [Al-Musnad 4/344). 

Menurut Hadist di atas, masa yang akan dilalui umat Islam berdasarkan pergantian pemimpin dan pola kepemimpinan adalah :

1. Masa kenabian , langsung dipimpin oleh Rasulullah SAW.

2. Masa Khulafaur Rasyidiin, ketika kekhalifahan ditangan sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan Hasan bin Ali (Radhiyallahu ‘Anhum).

3. Masa Mulkan Adhon , yaitu masa penguasa Islam yang zhalim, yang mewariskan kekuasaan pada garis keturunan mereka (kepemimpinan tidak sesuai minhaj Nubuwah).

4. Masa Mulkan Jabbariyan, yaitu masa penguasa diktator yang menggigit/memaksa manusia dengan hukum kafir (hukum buatan manusia/ selain hukum Allah).

5. Masa kehalifahan Al-Mahdi yang sesuai dengan minhaj Nabi.

Datangnya fitnah-fitnah besar sejalan dengan pergantian pola politik/ pola kepemimpinan dari 5 babak yang dilalui umat Islam. Secara berurutan, fitnah-fitnah besar ini dimulai sejak dari masa khulafaur Rasyidiin, kemudian di masa Mulkan ‘Adhon( Raja-raja yang mewariskan kepemimpinan/kekhilafahan kepada garis keturunannya/pola dinasti), dan di masa Mulkan Jabbariyan (raja-raja yang menggigit/diktator dengan hukum selain hukum Islam). 

Fitnah Sarra: Sabda Rasulullah SAW “asapnya muncul dari bawah kedua telapak kakiku.Seorang lelaki dari kalangan Ahlul Baitku(keluargaku), dia mendakwakan dirinya bagian dari diriku, padahal dia bukanbagian dariku. Sesungguhnya kekasihku adalah orang-orang yang bertakwa”. 

Menurut intepretasi kami, Fitnah Sarra dimulai ketika Bani Abbasiyah (yang notabene merupakan termasuk keluarga Nabi) merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. 

Di waktu awal kemunculan Dinasti Abbasiyah umat pun terpecah, kepemimpinan terpecah antara dinasti Umawiyah dan Dinasti Abbasiyah, semua ini muncul karena fitnah Sarra /Harta kekayaan. 

Kemunduran umat terus berlanjut, sampai pada puncaknya ketika para khalifah (beberapa khalifah dari Bani Abbasiyyah) yang menjadi penyokong dari perbuatan dan aqidah yang Bid’ah, seperti munculnya fitnah Khalq Al-Qur’an (meyakini Al-qur’an adalah mahluk) terjadi pada masa itu, inilah yang amat disesalkan Rasulullah SAW sehingga beliau bersabda :”dia(penguasa zhalim di masa bani Abbasiyah) mendakwakan dirinya bagian dari diriku, padahal dia bukan bagian dariku. Sesungguhnya kekasihku adalah orang-orang yang bertakwa”. 

Mulai pada masa itu elit politik mulai menunjukkan gaya hidup berfoya-foya, sampai titik nadhir, khilafah hanyalah sebuah nama. Sehingga Imam Ahmad Rahimahullah menjadi orang yang terasing ditengah-tengah sebuah kerajaan yang mengaku sebagai kekhalifahan Islam pada saat itu. Bahkan ditambah lagi dengan munculnya berbagai macam kelompok kebatinan, seperti Qaramithah dan Dinasti Fathimiyah. Ini menggambarkan sebuah kemunduran demi kemunduran. 

Rasulullah SAW memberikan ciri selanjutnya dari fitnah Sarra, yaitu “Kemudian orang-orang membaiat seorang laki-laki sebagaimana pangkal paha pada tulang rusuk (maksudnya goyah dan tidak teguh).”, maksud perkataan beliau adalah pada masa fitnah Sarra merebak, seseorang tidak dibaiat kecuali dengan ikatan baiat yang lemah. Umat Islam bersatu dalam baiat yang kuat hanya dalam masa periode 12 Imam (khalifah) setelah Rasulullah wafat, sebuah hadist dari Jabir bin Samurah (RA) :”Aku mendengar Rasulullah bersabda,”Agama ini akan terus berjaya selama dibawah naungan 12 khalifah. Mendengar sabda ini, semua orang gemuruh bertakbir.Kemudian Rasulullah bersabda dengan suara lirih hingga aku bertanya kepada ayahku (karena tidak mendengar), “Duhai Ayah, apakah yang disabdakan beliau tadi?” Ayahku menjawab, “Para khalifah itu semuanya berasal dari Quraisy.”Ketika ayahku sampai di rumahnya,datanglah orang-orang Quraisy kepadanya,“Kemudian apa lagi yang terjadi?” Ayah kumenjawab, “Setelah itu, akan terjadi pertumpahan darah.” HR. Abu Dawud: Al-Mahdi, hadits no. 4260 dan 4281 Redaksi ini sebagaimana yang terdapat dalam Sunan Abi Dawud [‘Aun Al-Ma’bad (11/368)]. Hadits ini mempunyaipenguat dalam kitab Shahih. 


Hadist di atas mengindikasikan bahwa umat akan mulai berpecah setelah masa berkuasanya 12 Imam itu telah lewat (yaitu sampai di masa khalifah ke-8 dari dinasti Bani Umayyah menurut pemahaman yang lebih rajih dari  ulama Ahlussunnah).

Hal ini terbukti saat berkuasanya bani Abbasiyyah, mereka berkuasa tanpa adanya kesatuan umat secara keseluruhan untuk mendukung mereka (baiat yang lemah), dibuktikan dengan adanya kekhilafahan tandingan di Maghrib (Maroko) dan di Andalus dari Bani Marwan. Inipun berlaku untuk para raja/khilafah selain Dinasti Abbasiyyah di masa fitnah Sarra.

Semakin kepemimpinan terbagi-bagi semakin terwujudlah gambaran dari Rasulullah ” “Kemudian orang-orang membaiat seorang laki-laki sebagaimana pangkal paha pada tulang rusuk (maksudnya goyah dan tidak teguh).”, penghianatan dan kezhaliman  banyak terjadi menyebabkan semakin terpuruknya umat, namun para penguasa zhalim ini tidak menyadari bahwa kehancuran sedang menanti mereka.

Fitnah Sarra berlangsung lama sampai akhir periode mulkan Adhon, dan mengantarkan kepada fitnah yang berikutnya yang lebih besar. 

Post a Comment