Menelusuri Jejak Thaifah Manshuroh : Sifat / Ciri Khusus [02]

 Bismillah…

pembahasan tentang Thaifah Manshuroh adalah pembahasan penting yang lebih banyak dilupakan oleh mereka yang menantkan kabar munculnya Al-mahdi. Padahal Al-Mahdi adalah bagian dari Thaifah Manshurah, salah satu fenomena yang muncul sebelum Almahdi adalah munculnya kelompok-kelompok yang ditolong (Manshurah). Ketika pembahasan TM ini dilupakan, maka dikhawatirkan bisa jadi kita bukan justru mengikuti Al-mahdi , namun justru memeranginya, wal iyyadzubilah.


Ulama telah banyak menjelaskan tentang ciri dan sifat khusus TM, kami di sini insyaallah  akan me review ulang ditambah dengan mengeluarkan siapa-siapa yang tidak termasuk dari TM berdasar penjelasan ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dengan demikian kita akan bisa dengan mudah men-“screening” siapa yang pantas dan memang termasuk TM. 


THAIFAH MANSHUROH ADALAH INTI DARI FIRQOTUN NAJIYAH

TM dijelaskan oleh ulama, adalah bagian dari firqotun Najiyyah. Firqotun Najiyyah atau Ahlussunnah wal jama’ah adalah 1 golongan yang selamat dari 73 golongan yang sesat. 
Dijelaskan bahwa firqatun Najiyyah adalah golongan  yang “Asing” / dianggap asing / (ghuroba)bagi 72 golongan lainnya yang sesat. Karena banyaknya kesesatan yang menyelisihi manhaj firqatun Najiyyah , dijelaskan dalam hadist : berikut: عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِيْ مَا أَتَى عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِيْ أُمَّتِيْ مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh akan terjadi pada ummatku, apa yang telah terjadi pada ummat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka niscaya akan ada pada ummatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya bani Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah saja dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah, yang semuanya di Neraka kecuali satu millah.’ (para Shahabat) bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.’” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2641′)
Rasulullah menjelaskan di akhir hadist: “yang(mengikuti) berada/ berjalan pada (jalan) yang Aku (Rasulullah SAW) dan sahabatku ada di atasnya”. 
Dari hadist ini dapat disimpulkan bahwa firqotun Najiyyah adalah mereka yang cara beragamanya(manhajnya) dan cara memahami agamanya dengan 2 hal :

  • Bersumber dari Rasulullah (wahyu)
  • dan memahami wahyu tersebut sebagaimana para sahabat/ulama sahabat radhiyallahu ‘Anhum memahaminya. 

Segi yang menonjol dalam kebenaran dibandingkan dengan Firqatun Najiyah  yang dipegangi oleh Thaifah ini sehingga bergelar manshuroh adalah sebagai berikut:

a. Istiqomah dalam aqidah, fanatlk dengan sunnah Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan menghindari bid’ah beserta orang-orangnya. Mereka adalah ahli sunnah yang tidak punya nama lagi yang pantas diberikan kepada mereka kecuali sunnah, bukan Jahmiyah, Mu’tazlllah, Qodariyah, Murji’ah atau Khawarij, dan bukan pula yang lainnya dari nama-nama yang menunjukkan ahli bid’ah dan hawa nafsu. (Bukan Nasionalis, bukan demokrat, bukan komunis, bukan sekuleris, bukan islamis (islam-nasionalis / demokratis) dsb.)

b. Istiqomah dalam petunjuk dan etika yang jelas di atas manhaj nabawi yang diwariskan dari sahabat ra., selamat dari sebab-sebab kefasikan, keraguan dan nafsu yang diharamkan. (Meninggalkan tasyabbuh & bangga dengan peradaban orang-orang kafir)

c Istiqomah dalam jihad dengar jiwa dan harta, beramar ma’ruf nahi munkar serta mendirikan hujjah (bukti kebenaran agama ini) atas semua orang. (Di saat yang lain berdamai dengan fitnah/kekafiran  yang mengepung, yang lain berhenti berjihad, yang lain takut akan tuduhan terorisme, TM konsisten dengan komitmen melawan fitnah tersebut dengan terang-terangan dengan da’wah dan jihad)

e. Istiqomah dalam usaha menyiapkan faktor penyebab kemenangan, baik moral maupun materil, dan menghimpun pilar-pilar yang digunakan orang mu’min untuk mencetak kemenangan.


TM ADALAH AHLI ATSAR / AHLI HADIST /AHLI ILMU

Pendapat-pendapat yang menyatakan TM adalah ahli Hadist/ ahli Atsar/Ahli Ilmu asalah sebagai berikut: 

1. Abdullah Ibnul Mubarok berpendapat: “Mereka menurutku adalah ahli hadits.”

2. Yazid bin Harun berpendapat: “Jika mereka bukan ahli hadits aku tak tahu lagi siapa mereka.”

3. Imam Ahmad berpendapat sama dengan Yazid. Beliau pernah melewati sekelompok orang dari ahli hadits yang sedang membeberkan kitab mereka, maka beliau berkata, “Saya tidak menduga mereka kecuali dari orang yang disebut oleh Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Selalu ada satu golongan dari umatku yang ada di atas kebenaran sampai hari kiamat.”(maksudnya TM)

4. Ali Ibnul Madini berpendapat: “Mereka adalah ahli hadits, mereka ashabul Hadits”, katanya lagi, “Mereka ashabul hadits yang memelihara mazhabnya RasulullahSallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mencari ilmu. Seandainya bukan mereka, kita tidak akan mendapatkan ciri-ciri Thaifah Manshuroh ini pada Mu’tazilah, Rofidhoh, Jahmiyah, dan ahli Ro’yi, karena tidak ada pada golongan sesat dari ahlul bid’ah semacam ini sesuatu dari sunnah para rasul.”

5. Imam Bukhari berkata, “Senantiasa ada sekelompok dari umatku…”, maksudnya ahli hadits, ” …dan mereka adalah ahli ilmu.”

6. Ahmad bin Sinan berkata, “Mereka adalah ahli ilmu dan ashabul atsar (orang yang ahli meriwayatkan hadits dan perkataan sahabat.”).

7. Ibnu Hibban berkata, “Disebutkan kepastian kemenangan bagi ahli hadits sampai hari kiamat”.Dengan demikian mereka adalah golongan yang berhadapan dengan ahli kalam dan ahli ro’yi yang mendahulukan akal pikiran, pendapat para syekh atas dalil shahih, dengan alasan bahwa dalil tersebut zhonniyu tsubut (ketetapannya masih dikira-kirakan) atau dengan mendustakan bahwa para syekh lebih tahu dengan dalil atau alasan lemah lainnya yang bersifat apologetik.Karena itu Imam Bukhari mengatakan, “Mereka ahli ilmu”. Pengertian ilmu leih luas dari hadits, sekalipun hadits dinamakan juga ilmu.


kita dapatkan dalam ungkapan Ali Ibnul Madini semacam takhshish(pengkhususan), la menginterprestasikan ahli hadits dengan orang-orang yang memelihara sunnah Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya, para pencari ilmu agama dan orang-orang yang menyampaikan sunnah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada umat manusia. Ini adalah penafslran yang bersifat sebagian (khusus)dari bagian-bagian yang lain. 


BILAMANAKAH THAIFAH MANSHURAH AKAN MUNCUL KE PERMUKAAN ?

 saat kondisi Umat mengalami kehancuran secara menyeluruh. 


Hadits Tsauban (Tentang Keadaan Umat di Akhir Zaman)Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»

“Hampir saja beberapa bangsa berkumpul menyerangmu sebagaimana para undangan menyantap (makanan) yang ada di piring.”Lalu ada seorang yang bertanya, “Apakah ketika itu karena kita sedikit?”Beliau menjawab,

بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ

“Bahkan kalian ketika itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian seperti buih yang ada di aliran air. Allah akan mencabut dari dada musuh kalian rasa takut kepada kalian, dan melemparkan ke dalam hati kalian wahn (kelemahan).”Kemudian ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu wahn?

”Beliau menjawab,

حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Cinta dunia dan takut mati.” (Hr. Abu Dawud, dan dinyatakan shahih oleh Al Albani dan Salim Al Hilali).


Dari Tsauban ra., bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda”Senantiasa terdapat kelompok dari umatku yang menang karena di atas kebenaran, tidak merugikan mereka orang-orang yang menghinanya sampai datang keputusan Allah, sedangkan mereka dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Turmudzi, dan Ibnu Majah).


CIRI KHAS/KEISTIMEWAAN THAIFAH MANSHURAH DARI MANUSIA LAIN DI DALAM FIRQATUN NAJIYYAH


Ini adalah ciri khas yang paling menonjol dalam sifat yang diberikan oleh NabiSallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka adalah … umat yang mendirikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maksud dari melaksanakan perintah Allah adalah:

a. Mereka berbeda dari sekalian manusia, dengan membawa panji da’wah menyeru kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, syariat-Nya dan sunnah NabiNya, serta melansir dan mempublikasikan sunnah di antara manusia dengan segala cara yang disyariatkan, membersihkan sunnah dari subhat, menggiring manusia kepadanya setiap kali ada kesempatan, serta menyangkal dan menangkal orang-orang yang menyalahinya dari orang-orang kafir, murtad, munafik dan juhala’ (orang-orang bodoh).

b. Mereka melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan hati, Iisan dan tangan, mengingkari seluruh penyelewengan yang terjadi dikalangan kaum muslimin apapun macamnya, baik politik, sosial, ekonomi, keilmuan ataupun aqidah. Mereka adalah ulul baqiyyah (orang-orang yang tersisa) yangmemberantas kerusakan di muka bumi. Mereka adalah orang-orang yang selamat dikala semua orang zalim hancur binasa.

c. Sebagaimana Thaifah ini menegakkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam melansir agama yang benar dan menyampaikannya, mengusir subhat (kekacauan pemahaman), memasyarakatkan sunnah di antara muslimin, memerangi bid’ah dan mewujudkan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar, maka Thaifah ini juga melaksanakan jihad dan berperang fi sabilillah (serta yang tidak berperang dari mereka mempersiapkan perang dan mendukung penuh mereka yang berperang dengan sekuat upaya mereka) .Di antara yang menarik perhatian dalam sebagian besar hadits adalah penyifatan mereka dengan “berperang di atas kebenaran”, seperti dalam hadits:

…”Maka mereka berternpur atas urusan (agama) Allah”. (hadits Uqbah bin Amir).

… “Bertempur di atas kebenaran.”(hadits Umron, Salamah bin Nufail, Jabir bin Abdullah).

… “Berperang di atas agama ini.” (hadits Jabir bin Samuroh).

… “Berperang di atas pintu-pintu Damaskus”. (hadits Imron).

Juga diterangkan dalam, sebagian riwayat bahwa orang terakhir yang mereka perangi adalah Masih Dajjal dalam hadits mungkar Salamah dan An-Nawas. Sedangkan hadits lain yang mengisahkan tentang mereka adalah penghinaan kuda oleh manusia, peletakan senjata, dan pernyataan tidak ada lagi perang, sehingga karenanya Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mereka dusta! Sekarang tiba saatnya perang,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Riwayat-riwayat ini menjelaskan dengan tuntas bahwa Thaifah Manshuroh muncul dan memperoleh kemenangan tidaklah sebatas orang yang berjlhad dengan kata-kata, melainkan juga melaksanakan tugas jihad syar’i (berperang secara syariat) di jalan Allah Subhanau wa Ta’ala dengan memerangi musuh Allah Azza wa Jalla yang kafir, munafik dan sebagainya. Ini berarti adanya kontinuitas jihad dalam bentuk kekuatan militer memerangi musuh-musuh agama Allah Azza wa Jalla sampai hari kiamat. Sebagaimana dinyatakan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang keberlangsungan jihad dalam sabdanya: “Kuda diikat kebaikan di ubun-ubunnya sampai hari kiamat, yaitu pahala dari ghanimah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan ini batallah kandidat Thaifah Manshurah dari umat yang melandaskan da’wahnya kepada izin resmi badan hukum negara dengan undang-undang dari selain Islam (Ormas dan partai). Gugur pulalah predikat Thaifah Manshurah dari mereka yang mengklaim berjuang lewat pemilu dan parlemen, karena semua ini meniadakan jihad dan menghentikan jihad bahkan kontraproduktif dengan jihad syar’i yang diusung Thaifah Manshuroh. 


THAIFAH MANSHURAH SELALU TERANG-TERANGAN MENENTANG KEBATHILAN YANG PALING BESAR (IZHARUDDIN)


“Senantiasa menampakkan diri sampai datangnya putusan Allah dan mereka menang.” (hadits Mughiroh).

“Mereka menampakkan diri diatas kebenaran.” (hadits Tsauban, Saad, Umar, dan mursalnya Muhammah bin Ka’ab). –

“Di atas kebenaran mereka menampakkan diri.” (hadits Zaid bin Arqom dan Imran), –

“Mereka menampakkan diri sampai hari kiamat.”(hadits Jabir bin Abdullah). –

“Di atas agama mereka menampakkan diri,” (hadits Abu Umamah). –

“Mereka menampakkan diri (menang) atas orang-orang yang melawannya” (hadits Murroh bin Ka’ab).


Secara global, ini adalah penyifatan yang besar, karena mereka menggemakan da’wah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad, dan mengokohkan hujjah sebagai bukti kebenaran Islam, yang berati dengan pekerjaan ini mereka muncul terang-terangan, dikenal manhajnya, jelas arahnya dan punya komando yang tegas. Pelaksanaan tugas tabligh, da’wah, memerangi kemunkaran, dan melawan musuh, mengharuskan keterus terangan, muncul di permukaan, semangat untuk menyampalkan yang haq pada setiap muslim dan manusla.

Sekalipun demikian amalan diatas tldak menghalangi bersembunyinya sebagian personelnya dengan Islam atau dengan da’wahnya, karena mengingat dan menimbang faktor tertentu dalam tempat dan waktu tertentu pula. Tetapi yang dimaksud penilaian disini adalah keadaan kelompok ini secara umum, tidak bagian-bagiannya atau personelnya. Ini berarti kondisi umum dengan kontinyuitas yang stabil bukan kondisi sementara yang datang dan pergi.


THAIFAH MANSHURAH AKAN MENANG


“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (AI-Our’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (At-Taubah: 33).

“Maka Kami bantu mereka yang beriman buat (mengalahkan) musuh-musuh mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang,” (As-Shaff: 14).

“Sehingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.” (At-Taubah: 48).

“Mengalahkan musuh-musuh mereka.” (hadits Uqbah bin Amir). –

“Menang atas orang-orang yang melawannya.” (hadits Imran bin Hushain dan Murroh Bin Ka’ab). –

“Mereka ditolong (dimenangkan).” (hadits Qurroh bin lyas) –

“Terhadap musuhnya mereka menang.” (hadits Abu Umamah)

Meskipun dimusuhi dari berbagai penjuru, nampak jelas bahwa Thaifah ini menang atas sebagian musuhnya, dan mendapatkan ghanimah (rampasan perang) dari mereka bahkan menguasainya. Thaifah ini menang atas kebanyakan ahli bid’ah dan dholal (sesat), menang atas mayorltas ahli riddah (murtad) dan kafirln. Baginya mencapai kemenangan dapat diperoleh dari banyak medan dan dalam banyak makna kemenangan, walaupun tidak harus menang dalam semua makna dan di setiap medan. Kemenangan ini berlangsung terus sampai batas tertentu yaitu hari kiamat, datangnya putusan Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu turunnya Nabi Isa as., keluarnya Dajjal, dan usaha Thaifah ini memeranginya

THAIFAH MANSHURAH MEMILIKI KESABARAN YANG LEBIH TINGGI


Allah Subhanau wa Ta’ala telah mengkhususkan Thaifah Manshuroh dengan sifat kesabaran yang tiada dimiliki oleh yang lainnya, karena ia dipilih untuk imamah (kepemimpinan) dan hidayah (pemandu kebenaran).

Kondisi mereka ini sebagaimana  yang ditegaskan Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya:”Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka menyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24).


Karena itu Sufyan bin Uyainah berkata, “Mereka mengambil pokok-pokok urusan, maka Allah Subhanau wa Ta’ala menjadkan mereka para pemimpin.” Dan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyifati mareka dengan: –

“Tidak merugikan oleh orang yang mendustakan dan tidak pula orang yang menyalahi mereka.” (hadits Muawiyah, Uqbah dan Abu Hurairah).

“Dan tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan”. (hadits Tsauban dan Murroh), –

“Tidak membahayakan mereka orang yang menyalahi mereka, kecuali kesempitan hidup.” (hadits Abu Umamah). –

“Dan mereka tidak peduli dengan orang yang menyalahi.” (mursal Muhammad bin Ka’ab).

Semua lafazh ini menunjukkan bahwa mereka kaum yang tahu jalannya, mereka tidak peduli dengan orang yang menyalahi, dan tidak merugikan mereka penghinaan orang-orang yang menghina, dan tidak pula pendustaan orang-orang yang mendustakan, sekalipun mereka menghadapi itu semua, maka tidak menimpa mereka kecuali kesempitan hidup.

Sebagai akhir pembahasan dari ciri-ciri khas Thaifah Manshuroh ini, maka harus diyakinl bahwa ciri-ciri khas yang terdapat pada Firqah Najiyah juga terdapat pada Thaifah Manshuroh, karena Thaifah ini esensi dari Firqah Najiyah(Ahlussunnah wal Jama’ah, bahkan ia lebih berhak berpredikat “selamat”.

Kita perhatikan bahwa sebagian besar ciri-ciri khusus Thaifah ini berhubungan dengan tugas dan peran yang dilakukan demi umat sebagai civil servant, yaitu menyerahkan segala daya upaya demi melindungi agama, mempertahankan, dan meninggikannya.

Post a Comment