بسمالله الرحمن الرحيم
Siapapun yang Mengabaikan Al-Qur'an,
Dia tidak akan Menolongnya
Perasaan marah atas kejahatan pembakaran Al-Qur'an yang
Mulia di negara salib Swedia tidaklah sesuai harapan yang
sebatas berlindung dalam bingkai kecaman, kutukan dan
setengah boikot, kemudian perasaan emosional ini dengan
cepat memudar tanpa diterjemahkan ke dalam tindakan
yang nyata di lapangan.
Sepanjang sejarah, pemerintah salibis yang terlibat dalam
penghinaan terhadap Islam tidaklah menyinggung 'suatu
hal'; dalam artian yakni setiap perhatian terhadap
langkah-langkah protes ini, itu tidak mengekspos mereka
yang terlibat secara politik, tidak juga akan membuka tabir
mereka sama sekali dan tidak akan pernah melakukannya,
karena kejahatan ini bersumber dari inti perang yang
dinyatakannya terhadap Islam, dan bukan juga insideninsiden
secara individual atau anomali yang berdiri
dibelakangnya "kanan" atau "kiri", karena perang mereka
melawan Islam dilakukan secara bersama-sama oleh kanan
1
mereka dan kiri mereka, pasukan mereka, rakyat mereka,
pemerintah mereka serta oposisi mereka.
Kembali ke gelombang pertama yaitu pelecehan terhadap
Islam dan Nabinya -Shallallahu'alaihi wa Sallam- yang
digencarkan oleh surat kabar Denmark, diikuti oleh surat
kabar Norwegia, Jerman dan Prancis... Gelombang ini
merupakan penerapan dan praktek keterlibatan dalam
perang salib yang dideklarasikan oleh salibis Amerika saat
itu, puncaknya adalah invasi ke Irak dan Khurasan. Dengan
demikian, tindakan pelecehan terhadap Islam ini mewakili
pendekatan resmi negara dan pemerintah-pemerintah
salibis, terlepas dari atribusinya kepada individu atau
kelompok.
Demikian juga dalam kejahatan ini dan kejahatan lain yang
peruntukkan untuk menghina Islam, adalah sebagai
tanggapan terhadap mereka yang mengklaim bahwa salibis
tidak mengetahui Islam dan Al-Qur'an. Ketahuilah, orangorang
ini membakar Al-Qur'an karena mereka mengetahuinya
dan takut, bukan karena mereka tidak mengetahuinya.
Bahkan, pilihan mereka terhadap tempat dan waktu untuk
melakukan kejahatan tersebut di hari Haji Akbar adalah bukti
terbesar untuk itu, karena ini adalah kejahatan yang
sistematis dan terencana.
Semua kejahatan ini dulu dan sekarang didukung "Secara
hukum dan politik" oleh pemerintah salibis, beberapa dari
pemerintah ini bahkan memberikan penghargaan dan
imbalan kepada surat kabar yang menyinggung Islam di
bawah istilah "kebebasan berekspresi!" Ini merupakan
pengesahan yang sama yang mendorong Swedia untuk
2
dengan berani menegaskan posisinya dengan segala tindak
pelecehan dan mengatakan bahwa "Kebebasan berekspresi
adalah hak yang dilindungi konstitusi."
Swedia atau Prancis tidak terkecuali dalam hal ini, sekretaris
Jenderal salibis "NATO" menegaskan "Pengesahan" terhadap
kejahatan tersebut dan secara harfiah mengatakan
"Tindakan yang memicu permusuhan atau pertentangan,
belum tentu tindakan ilegal!!". Pernyataan-pernyataan salibis
tersebut ingin menegaskan bahwa apa yang terjadi adalah
perkara hukum yang dijamin dalam "Hukum internasional" di
bawah apa yang mereka sebut sebagai "kebebasan
berekspresi".
Dan salah satu kejadian yang konyol adalah beberapa
pemuka dari gerakan murtad menuntut "Hukum internasional
yang terlibat dalam kejahatan menyerang Islam!". Mereka
lupa bahwa hukum internasional itulah yang mengesahkan
hal ini, bahkan semua perang mereka melawan kaum
Muslimin terjadi di bawah kedok "Hukum dan Undangundang
internasional".
Namun apakah kaum Muslimin menyadari alasan di balik
keberanian yang melampaui batas ini dari orang-orang kafir
terhadap kesucian mereka? Mengapa makhluk yang paling
hina berani melecehkan Islam, Nabi-Nya -Shallallahu'alaihi
wa Sallam- dan kitab-Nya?! Maka kami katakan dan dengan
memohon taufiq kepada Allah, bahwa orang-orang kafir
tidaklah berani melecehkan Islam, melainkan setelah
manusia mengabaikan Al-Qur'an dalam kehidupan mereka,
dengan apa yang terkandung di dalamnya berupa tauhid,
jihad, dan Al-Wala wal Baro'. Menelantarkan Al-Qur'an,
3
mengabaikan penerapannya dan meninggalkan berhukum
padanya adalah hal yang membuat para tiran ini berani
melakukan apa yang mereka lakukan, yakni mereka aman
dari hukuman, perilaku mereka tidak sekedar melecehkan;
bahkan mengulang-ulangi pelecehannya!
Kehinaan diperdalam lagi dengan terbitnya pernyataanpernyataan
kecaman dari pemerintah murtad, yang
dilampirkan dengan menekankan perlunya "Dukungan penuh
untuk nilai-nilai toleransi dan kebersamaan!" Dan memperingatkan
bahwa apa yang terjadi adalah "Seruan
terang-terangan untuk permusuhan dan memicu
perselisihan", sehingga pernyataan-pernyataan pemerintah
dan badan-badan murtad tersebut dengan sendirinya
membakar apa yang datang dari Al-Qur'an yang Mulia yaitu
Al-Wala wal Baro' dan jihad!
Orang-orang dan massa menyerukan "Gelombang
kemarahan baru" di jejaring sosial! Setelah gelombang
kemarahan sebelumnya mereda tanpa menghasilkan
apa-apa!, begitu juga seruan untuk memboikot barangbarang
Swedia diperbarui, setelah serangkaian kampanye
serupa dengan memboikot produk Prancis.
Nyatanya, boikot ini tidak terbukti efektif dalam
menghalangi atau mencegah pemerintah mengulangi
pelanggaran terhadap syi'ar-syi'ar Islam, yang dibuktikan
dengan pengulangan kejahatan yang sama dengan kedok
resmi pemerintah, dengan laju yang dipercepat dan lebih
berani dari sebelumnya. Jadi, pemerintah salibis tidaklah
memperhitungkan boikot atau demonstrasi yang hanya bisa
menjadi seperti bak penghambat dan obat penenang, namun
4
tidak dapat mengungkap asal sumber penyakit, tidak juga
meresepkan obat.
Dan yang wajib untuk diterapkan adalah memboikot ideologi
salibis, dan memboikot "Manhaj" kafir yang menghasilkan
kejahatan-kejahatan ini dan melegalkannya, serta kepalanya
yaitu demokrasi dengan segala partai-partainya. Maka inilah
yang lebih pantas dan utama yang harus diboikot sekiranya
mereka berakal, bahkan inilah yang diperintahkan oleh
Al-Qur'an yang mereka menangisinya, dan ketika mereka
membaca surah (Baro'ah) atau (Al-Kaafirun).
Perlu diketahui bahwa semua reaksi-reaksi terhadap
kejahatan pembakaran Al-Qur'an yang baru terjadi atau
sebelumnya!; Ianya tanpa menyerukan solusi syar'i yang
disahkan oleh Islam untuk menghadapi serangan sengit ini,
yaitu jihad di jalan Allah Ta'ala dan mencapai pemisahan
total dengan orang-orang kafir, kanan maupun kiri mereka,
serta menebas leher mereka dan menumpahkan darah
mereka. Inilah salah satu tujuan terpenting jihad yang tidak
ada dalam kampanye ini.
Sebaliknya, mereka yang memboikot produk-produk negara
Barat tanpa manhaj dan menyerangnya; Sedangkan mereka
berani menyerang pemuda Muslim yang berusaha menuntut
balas atas Nabi mereka -Shallallahu'alaihi wa Sallam- dengan
melakukan serangan di kediaman orang-orang kafir, dan
mempromosikan bahwa serangan mereka bertujuan untuk
menyabotase kampanye boikot! Kami tidak mengetahui
apakah itu boikot untuk salibis atau Mujahidin?! Mereka juga
mempromosikan beberapa posisi thaghut murtad yang
memperdagangkan Islam, yang mengecam pernyataan
5
thaghut Prancis yang menghina Nabi -Shallallahu'alaihi wa
Sallam- akan tetapi mereka adalah yang pertama
menerimanya di kediaman mereka dengan segala
keramahan dan penghargaan. Hari ini, mereka mencoba
menggunakan kejahatan pembakaran Al-Qur'an dalam
perjuangan mereka melawan saingan mereka dalam politik.
Jadi, siapa saja yang menelantarkan Rasul -Shallallahu'alaihi
wa Sallam, dia tidak akan menolong Al-Qur'an.
Sesungguhnya menolong Al-Qur'an yang Mulia adalah
dengan bersungguh-sungguh berjuang untuk berhukum
dengannya dan menerapkannya di bumi, serta berjihad dan
memerangi semua orang yang menghalanginya yaitu dari
pasukan dan pemerintah-pemerintah yang telah membakar
Al-Qur'an puluhan kali dengan api pesawat-pesawat mereka
dan lahar misil-misil mereka, bahkan ia membakar dan
menghancurkan tempat-tempat yang di dalamnya berlaku
hukum Al-Qur'an dalam kehidupan, begitu juga para
imam-imam kesesatan yang mengubah-ubah hukum
Al-Qur'an demi meneguhkan singgasana para thaghut, dan
bersama mereka juga yaitu dari partai-partai dan
gerakan-gerakan yang mengikuti mereka, orang-orang ini
semuanya adalah sekutu dalam kejahatan menelantarkan
Al-Qur'an, dan siapapun yang mengabaikan Al-Qur'an, dia
tidak akan menolongnya.
Artikel An-Naba' edisi 398
Kamis, 18 Dzulhijah 1444 H
6

Post a Comment