بسمالله الرحمن الرحيم
Padahal Jika Mereka Benar Imannya Kepada
Allah (Pastilah Mereka Ikut Berperang), Niscaya
Yang Demikian Itu Lebih Baik Bagi Mereka
Kejujuran selalu menjadi pegangan yang menyaring barisan
kaum muslimin, siapa pun yang berusaha keras untuk
meraihnya dan berpegang teguh padanya akan menjaga
dirinya dan menyelamatkan tujuannya, Bi'idznillahi Ta'ala,
dan siapa saja yang gagal meraihnya dan kehilangannya
maka ia telah kehilangan dirinya dan menyia-nyiakan
amalannya hilang diterjang hembusan angin yang
membuatnya merugi di dunia dan akhirat, hanya berlelahlelah
dan letih di dunia, dan azab yang keras di akhirat.
Kejujuran adalah perkara yang tak terlihat, tak seorang pun
yang dapat memastikannya kepada siapa pun, bahkan untuk
dirinya sendiri. Namun, orang-orang beriman berkisar antara
1
harapan dan takut, berharap keridhaan Allah Azza wa Jalla
padanya, firman Ta'ala: {Dan orang-orang yang
memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati
yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya
mereka akan kembali kepada Rabb mereka.} [Al-
Mukminun: 60]. Ibnu Katsir -Rahimahullah- Berkata: "Yaitu
mereka mengasihkan pemberiannya dengan rasa takut dan
malu bila tidak diterima, yang hal ini bersumber dari
perasaan takut mereka bila diri mereka dinilai oleh Allah
telah berlaku sembrono terhadap persyaratan memberi. Hal
seperti ini termasuk ke dalam Bab (Bersikap Hati-hati dan
Merasa Takut kepada Allah.)". [Tafsir]
Mereka yang merenungi keadaan orang-orang yang teguh di
jalan jihad -Demikianlah kami menilainya dan Allah-lah yang
menilai mereka-, akan menemukan bahwa mereka takut dan
khawatir akan perubahan hati dan berbelok kepada yang
buruk, mereka bertawakkal kepada Allah Ta'ala dan selalu
memohon kepada-Nya untuk meneguhkan mereka di jalan
Al-Haq serta tidak menyerahkan urusan mereka kepada diri
mereka sendiri walau sekelip mata atau kurang dari itu.
Tatkala waktunya telah tiba untuk berkorban dan memberi,
akan terlihat mereka di barisan terdepan, mempersembahkan
yang paling berharga dari yang mereka punya di jalan
Allah, berharap Allah ridha kepada mereka dan menerima
mereka.
Sebaliknya, akan ditemukan beberapa orang yang tidak siap
memikul beban di jalan ini, maka terlihat mereka dalam
keadaan tentram berpura-pura teguh mengaku bersedia dan
siap berperang. Akan tetapi tatkala tiba waktunya untuk
menguji kejujuran di lapangan, untuk membuktikan klaim dan
2
menegaskan perkataan dengan amal, lalu terungkap
kelemahan mereka, menjadi jelas ketakutan mereka; mereka
lalu menahan diri dan tidak maju.
Kita dapat membaca kisah-kisah dalam Al-Qur'an ketika
para pemimpin Bani Israel meminta nabi mereka untuk
berperang, Allah berfirman tentang perkataan mereka:
{Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka
Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka
berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk
kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah
pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab:
"Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang,
kamu tidak akan berperang". Mereka menjawab:
"Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah,
padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak
kami?". Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka,
merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara
mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang
yang zalim.} [Al-Baqarah: 246]. Mereka mewajibkan kepada
diri mereka sendiri apa yang tidak Allah wajibkan kepada
mereka, begitu juga nabi mereka -dan dia mengetahui
keadaan mereka-; dia bertanya kepada mereka tentang
sejauh mana pemenuhan janji mereka dan komitmen mereka
terhadap apa yang mereka minta, maka ketika itu
diwajibkan, merekapun berpaling kecuali beberapa dari
mereka. Ibnu Katsir berkata: "Yaitu mereka tidak memenuhi
apa yang telah mereka janjikan, bahkan kebanyakan dari
mereka membangkang, tidak mau berjihad; dan Allah Maha
Mengetahui mereka".
3
Maka dari itu di antara bentuk kejujuran adalah berpegang
teguh dengan perintah Allah dalam hal kenyataan; Dan tidak
melampaui apa yang lebih berat dan tidak menyiksa diri
dengan apa yang tidak diperintahkan padanya, sehingga
tidak memaksakan atau mengharamkan apa yang dihalalkan
pada dirinya dan mengharapkan kesulitan dan kekerasan
darinya; karena yang demikian itu termasuk melanggar
batas-batas Allah, Allah Ta'ala berfirman: {Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang
baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah
kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas.} [Al-
Maidah: 87]. Tentang makna ayat, Ath-Thabari berkata: "Allah
berfirman, "Wahai orang-orang yang membenarkan Allah
dan rasul-Nya serta mengakui apa yang dibawa kepada
mereka oleh Nabi mereka -Shallallahu'alaihi wa Sallamadalah
benar-benar dari sisi Allah, (Janganlah kamu
haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi
kamu), yaitu 'at-thayyibat', segala kelezatan yang dihasratkan
oleh diri dan diinginkan oleh hati. Kemudian kalian
memutuskan keinginan itu seperti yang dilakukan oleh para
pendeta dan rahib, mereka mengharamkan atas diri mereka
perempuan, makanan-makanan yang baik, dan minumanminuman
yang lezat. Bahkan sebagian dari mereka
mengurung diri di dalam gereja dan sebagian lagi
bertamasya di atas mukabumi. Allah memperingatkan:
"Wahai orang mukmin, janganlah kalian melakukan
sebagaimana yang mereka lakukan, dan janganlah
melampaui batas Allah yang telah ditentukan kepada kalian
berupa apa yang telah dihalalkan dan diharamkan, sehingga
membuat kalian tidak taat kepada-Ku lantaran perbuatan
itu". Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang
4
melampui batas yang telah ditetapkan kepada makhluk-Nya,
berupa apa yang dihalalkan kepada mereka dan apa yang
diharamkan atas mereka." [Tafsir]. Ini adalah bagi orang
yang melarang untuk dirinya apa yang telah dihalalkan oleh
Allah, dan yang serupa dengannya adalah orang-orang yang
menetapkan apa yang tidak ditetapkan oleh Allah atas
mereka, seperti dalam firman-Nya Jalla wa 'Ala:
{Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh
anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak
mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah
telah rezeki-kan pada mereka dengan semata-mata
mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka
telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.}
[Al-'An'am: 140]. Ibnu Katsir berkata: "Allah Ta'ala berfirman
bahwa sesungguhnya telah merugilah orang-orang yang
melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, mereka merugi di
dunia dan akhiratnya. Adapun di dunia, mereka akan merasa
kehilangan
anak-anak mereka karena mereka sendiri telah
membunuhnya, dan mereka mempersempit diri mereka
sendiri dalam harta mereka karena mereka telah mengharam
kan banyak hal yang mereka ada-adakan sendiri yang
akibatnya mencekik leher mereka sendiri. Adapun di akhirat,
mereka akan menghuni tempat yang paling buruk
disebabkan kedustaan mereka terhadap Allah dan hal-hal
yang mereka ada-adakan sendiri. Di dalam ayat yang lain
disebutkan melalui firman-Nya: {Katakanlah: "Sesungguhnya
orang-orang yang mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah tidak beruntung". (Bagi mereka)
kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada
Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan
kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran
mereka.} [Yunus: 69-70]". [Tafsir]
5
Cukuplah bagi seseorang untuk sepenuhnya jujur lagi siap
menghadapi masalah apa pun yang datang kepadanya, dan
memuji Allah atas apa yang dicukupkan untuknya, serta
memohon keselamatan kepada Allah dari apa yang sulit
baginya. Ibnu Abi Hatim -Rahimahullah- meriwayatkan
dalam tafsirnya dari Al-Hasan: "Ketika ayat ini diturunkan
kepada Rasulullah -Shallallahu'alaihi wa Sallam-: {Dan
sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka:
"Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu",
niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali
sebagian kecil dari mereka.} [An-Nisa: 66], ada segolongan
orang dari sahabat Nabi -Shallallahu'alaihi wa Sallam- yang
mengatakan: "Sekiranya kita diperintahkan oleh Rabb kita
untuk itu, niscaya kita benar-benar akan melakukannya",
maka sampailah perkataan itu kepada Nabi -Shallallahu
'alaihi wa Sallam-, lalu beliau bersabda: (Iman benar-benar
lebih kokoh di dalam hati para pemiliknya daripada
gunung-gunung yang dipancangkan dengan kokohnya). Dan
inilah yang wajib dan diperintahkan, dalam Shahihain, dari
Abu An-Nadhar, bersabda -Shallallahu'alaihi wa Sallam-:
(Wahai sekalian manusia, janganlah kalian mengharapkan
bertemu dengan musuh tapi mintalah kepada Allah
keselamatan. Dan bila kalian telah berjumpa dengan musuh,
bersabarlah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya surga itu
terletak di bawah naungan pedang-pedang).
Jihad masih merupakan batu keras dan pemisah yang
menyaring antara orang-orang yang jujur dan orang-orang
yang mengklaimnya, dan orang-orang di sekitar Rasulullah
-Shallallahu'alaihi wa Sallam- masih sama keadaannya
hingga turun penyebutan perang sebagai perintah dari ayat
kitab, maka terpisahlah mereka menjadi antara orang
6
mukmin jujur yang segera menjawab dan bergegas, dan
orang munafik pendusta penipu yang berkhianat, Allah Ta'ala
berfirman: {Dan orang-orang yang beriman berkata:
"Mengapa tiada diturunkan suatu surat?" Maka apabila
diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan
disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat
orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya
memandang kepadamu seperti pandangan orang yang
pingsan karena takut mati.} [Muhammad: 20]
Inilah yang terulang hari ini dan kita melihatnya di beberapa
arena jihad, ketika anda menemukan jumlah dan tekad yang
memenuhi dataran dan meledakkan gunung, kemudian
dimulai penyaringan dengan lamanya waktu maupun ujian
yang berturut-turut; Mereka yang jujur kepada Allah akan
teguh, dan mereka yang berkhianat maka bumi akan terasa
sempit bagi hatinya, yang mudah terasa sulit baginya
bagaimanalagi yang sulit, dan ia lupa akan keta'atan
maupun perkataan yang telah diketahui dalam hal komitmen
dengan perintah, ia memperturutkan hawa nafsunya hingga
ia kehilangan pijakan keteguhannya, dan terjadilah apa yang
terjadi yaitu pemisahan. Padahal jika mereka jujur kepada
Allah -Dari awal- niscaya yang demikian itu lebih baik bagi
mereka, dan padahal jika mereka memohon keselamatan
kepada Allah, tentu Allah akan membantu mereka dalam
petunjuk untuk mencapainya. Kami memohon kepada Allah
keselamatan dan perlindungan.
Tidak samar lagi bahwa jujur adalah salah satu murni amalan
hati, meskipun bisa tampak pada hambanya baik hal negatif
maupun positif, maka janganlah menilai makhluk dari itu,
dan bukan berarti dengan begitu ia ada dalam hati dan tidak
7
hilang, akan tetapi ianya akan hilang dan menggoyahkan
pemiliknya serta merusak keteguhannya disebabkan karena
dosa atau maksiat, Allah Ta'ala berfirman: {Yang
menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh
tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia)
karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah.}
[An-Nahl: 94]
Sebaliknya, orang yang ragu dan berbalik tidaklah berarti
bahwa orang tersebut tidak akan pernah jujur dalam
hidupnya (karena bertaubat). Allah Ta'ala telah berfirman:
{Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang
yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa
orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima
taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.} [Al-Ahzab: 24]. Ibnu
Katsir -Rahimahullah- berkata: "Dan firman-Nya: {supaya
Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar
itu karena kebenarannya,} yaitu Allah Ta'ala menyebutkan
tentang: {Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang
yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah
.... supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang
yang benar itu karena kebenarannya.}, ia berkata: Agar Allah
memberi balasan kepada orang-orang yang benar karena
kebenarannya terhadap apa yang mereka janjikan kepada
Allah serta pemeliharaan mereka terhadap janji tersebut.
{dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya} karena
keingkaran mereka kepada Allah dan kemunafikan mereka,
{atau menerima taubat mereka} dari kemunafikan mereka,
dan menunjuki mereka kepada iman".
8
Perkara tersebut tidak lain adalah niat yang tulus yang
dengan karunia Allah akan membawanya kepada akhir yang
baik, yang menyelamatkan mujahid dari sumber fitnah dan
akhir yang buruk, hingga dia bertemu Rabbnya dengan jujur
kepada janji; Jadi ya, diterima, bertemu, dan meraih. Jika
tidak demikian, maka celakalah jiwa dan apa yang
dibawanya, kami memohon kepada Allah keselamatan. Ya
Allah, berilah kami kejujuran dan keikhlasan dalam niat kami
dalam apa yang kami katakan maupun kerjakan, dan akhir
seruan kami adalah segala puji bagi Allah, Rabb semesta
alam.
Makalah An-Naba' edisi 398 Hal.7
Kamis, 18 Dzulhijah 1444 H
9

Post a Comment