Bismillah…
Yang dimaksud adalah 1.Fitnah Ahlas , 2. Fitnah Sarra dan 3. Fitnah Duhaima.
Hadist yang menggambarkan tentang 3 fitnah besar ini adalah :
Dari Abdullah bin Umar RA, dia berkata :“Kami duduk-duduk di hadapan Rasulullah, lalu beliau menceritakan tentang fitnah-fitnah, bahkan beliau sangat sering menceritakannya, sampai beliau menyebut-nyebut fitnah Ahlas. Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah fitnah ahlas itu?” Beliau bersabda, “Itu adalah melarikan diri dan perang. Kemudian fitnah sarra’, asapnya muncul dari bawah kedua telapak kakiku. Seorang lelaki dari kalangan Ahlul Baitku (keluargaku), dia mendakwakan dirinya bagian dari diriku, padahal dia bukan bagian dariku. Sesungguhnya kekasih ku adalah orang-orang yang bertakwa.Kemudian orang-orang membaiat seorang laki-laki sebagaimana pangkal paha pada tulang rusuk (maksudnya goyah dan tidak teguh). Kemudian fitnah Duhaima (besar dan bencana yang membabibuta), tidak menyisakan seorang pun dari umat ini kecuali fitnah ini menamparnya dengan sebenar-benar tamparan. Ketika dikatakan, Fitnah ini sudah berlalu’, kenyataannya fitnah terus saja berlangsung. Ketika itu seseorang memasuki waktu pagi sebagai orang yang beriman, tetapi memasuki waktu sore sudah menjadi orang kafir. Manusia menjadi dua kelompok, kelompok iman yang tidak ada kemunafikan padanya dan kelompok munafik yang tiada iman padanya. Apabila seperti itu keadaan kalian maka kalian tunggulah Dajjal, pada harinya itu, atau esok harinya” HR. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, kitab Al-Fitan wa Al-Malâhim; Ahmad, Musnad Al-Mukatstsirîn, hadits no.6173 [Al-Musnad (2/181)]; Al-Hakim, kitab Al-Fitan, haditsno. 8441, dia berkomentar tentang hadits ini, “Hadits ini shahih sanadnya.” Adz-Dzahabi mengakui kebenaran ucapan Al-Hakim (Al-Mustadrak (4/513)]
Singkatnya, menurut intepretasi kami, hadist mengenai fitnah-fitnah besar ini berkorelasi erat dengan hadist “umur umat Islam” yang menjelaskan bahwa umat Islam akan melalui 5 babak/ masa :
“Masa kenabian akan datang di tengah-tengah kalian dan akan berlangsung dengan kehendak Allah, kemudian Dia akan mencabut masa kenabian itu jika Dia berkehendak untuk mencabutnya.Kemudian, akan muncul masa khilafah dengan minhaj an-nubuwwah (tuntunanNabi) dan akan terus berlangsung sampai Allah berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian datanglah masa para raja yang hanya menyengsarakan rakyat dan akan terus berlangsung sehingga Allah menghendaki untuk mencabutnya (meng-akhiri masa kekuasaannya). Kemudian muncul lagi penguasa diktator dan akan terus berlangsung sampai Allah menghendaki untuk menghabisi masanya. Kemudianakan muncul lagi sebuah kekhilafahan yang didirikan dengan petunjuk Nabi.”HR. Ahmad: Musnad Al-Kufiyyîn, hadits no. 18436 [Al-Musnad 4/344).
Menurut Hadist di atas, masa yang akan dilalui umat Islam berdasarkan pergantian pemimpin dan pola kepemimpinan adalah :
1. Masa kenabian , langsung dipimpin oleh Rasulullah SAW.
2. Masa Khulafaur Rasyidiin, ketika kekhalifahan ditangan sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan Hasan bin Ali (Radhiyallahu ‘Anhum).
3. Masa Mulkan Adhon , yaitu masa penguasa Islam yang zhalim, yang mewariskan kekuasaan pada garis keturunan mereka (kepemimpinan tidak sesuai minhaj Nubuwah).
4. Masa Mulkan Jabbariyah, yaitu masa penguasa diktator yang menggigit/memaksa manusia dengan hukum kafir (hukum buatan manusia/ selain hukum Allah).
5. Masa kehalifahan Al-Mahdi yang sesuai dengan minhaj Nabi.
Datangnya fitnah-fitnah besar sejalan dengan pergantian pola politik/ pola kepemimpinan dari 5 babak yang dilalui umat Islam. Secara berurutan, fitnah-fitnah besar ini dimulai sejak dari masa khulafaur Rasyidiin, kemudian di masa Mulkan ‘Adhon( Raja-raja yang mewariskan kepemimpinan/kekhilafahan kepada garis keturunannya/pola dinasti), dan di masa Mulkan Jabbariyah (raja-raja yang menggigit/diktator dengan hukum selain hukum Islam). Berikut penjelasannya sesuai urutan.
Fitnah Ahlas terjadi semenjak terbunuhnya khalifah Umar Bin Khattab ra, pembunuhan berturut-turut para khalifah sampai fitnah terbunuhnya Husain bin Ali Ra, di masa tersebut kaum muslimin terpecah dan saling berperang sedangkan aktor intelektual masih melarikan diri dari jeratan hukum, ini sesuai arti dari Ahlas yaitu “perang/pembunuhan dan melarikan diri”. (aAssasination/pembunuhan rahasia)
Dalam sebuah hadist /Atsar sahabat menjelaskan bahwa khalifah Umar Ra adalah pintu yang menahan fitnah besar, lalu pintu itu hancur dengan terbunuhnya Umar Radhiyallahu ‘anhu. Potongan hadistnya:
…Para sahabat bertanya :“Siapakah pintu(penahan fitnah) itu?”Hudzaifah berkata, “(Pintu itu) adalah ‘Umar.” [HR. al-Bukhari (6567) dan Muslim (5150)]
Fitnah Ahlas ini imbasnya masih bisa dirasakan sampai sekarang dengan munculnya firqah sesat Syiah, Mu’tazilah dan khawarij. Kemudian secara umum setelah perpecahan , kemapanan/ kestabilan/persatuan seluruh kaum muslimin kembali bisa dibina pada masa kekhalifahan Bani Umayyah. Setelah masa Yazid bin Muawiyah kaum muslimin kembali terpecah, hingga kemudian dapat disatukan kembali dengan dibaiatnya khalifah Abdul Malik bin Marwan, yang kemudian secara kronologis mewariskan kekuasaannya kepada 4 orang pengganti yang berasal dari garis keturunannya : Walid, Sulaiman, Yazid bin Sulaiman dan Hisyam. Masa peralihan antara Sulaiman dan Yazid bin Marwan diselingi oleh tampilnya Umar bin Abdul Aziz. Dan terakhir, Walid bin Yazid sempat juga memerintah selama 4 tahun dengan mendapat dukungan dari seluruh umat Islam. Setelah itu, secara beruntun terjadilah berbagai fitnah. Namun ada yang perlu diperhatikan di sini, semenjak Yazid bin Abdul Malik mangkat, umat Islam sudah tidak dapat dipersatukan lagi di bawah naungan seorang khalifah. Hal ini ditandai setelah Yazid mangkat, Ibrahim, saudaranya datang yang kemudian tampil untuk menggantikannya. Namun Marwan bin Muhammad bin Marwan menggulingkan kekuasaannya. Di bawah kekuasaan Marwan bin Muhammad bin Marwan inilah kondisi stabil kekuasaan Bani Umaiyyah tidak dapat dipertahankan.Setelah itu secara beruntun berbagai kudeta dan pemberontakan silih berganti hingga akhirnya Bani Abbas dapat mengakhiri riwayat Bani Umaiyyah. (Inilah awal terjadinya Fitnah Sarra).
Fitnah Sarra: Sabda Rasulullah SAW “asapnya muncul dari bawah kedua telapak kakiku. Seorang lelaki dari kalangan Ahlul Baitku(keluargaku), dia mendakwakan dirinya bagian dari diriku, padahal dia bukan bagian dariku. Sesungguhnya kekasihku adalah orang-orang yang bertakwa”.
Menurut intepretasi kami, Fitnah Sarra dimulai ketika Bani Abbasiyah (yang notabene merupakan termasuk keluarga Nabi) merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Di waktu awal kemunculan Dinasti Abbasiyah umat pun terpecah, kepemimpinan terpecah antara dinasti Umawiyah dan Dinasti Abbasiyah, semua ini muncul karena fitnah Sarra /Harta kekayaan. Kemunduran demi kemunduran terus dirasakan umat Islam, sampai pada puncaknya ketika para khalifah (beberapa khalifah dari Bani Abbasiyyah) yang menjadi penyokong dari perbuatan dan aqidah yang Bid’ah, seperti munculnya fitnah Khalq Al-Qur’an (meyakini Al-qur’an adalah mahluk) terjadi pada masa itu, inilah yang amat disesalkan Rasulullah SAW sehingga beliau bersabda :“dia(penguasa zhalim di masa bani Abbasiyah) mendakwakan dirinya bagian dari diriku, padahal dia bukan bagian dariku. Sesungguhnya kekasihku adalah orang-orang yang bertakwa”.
Mulai pada masa itu elit politik mulai menunjukkan gaya hidup berfoya-foya, sampai titik nadhir, khilafah hanyalah sebuah nama. Sehingga Imam Ahmad Rahimahullah menjadi orang yang terasing ditengah-tengah sebuah kerajaan yang mengaku sebagai kekhalifahan Islam pada saat itu. Bahkan ditambah lagi dengan munculnya berbagai macam kelompok kebatinan, seperti Qaramithah dan Dinasti Fathimiyah. Ini menggambarkan sebuah kemunduran demi kemunduran. Rasulullah SAW memberikan ciri selanjutnya dari fitnah Sarra, yaitu “Kemudian orang-orang membaiat seorang laki-laki sebagaimana pangkal paha pada tulang rusuk (maksudnya goyah dan tidak teguh).”, maksud perkataan beliau adalah pada masa fitnah Sarra merebak, seseorang tidak dibaiat kecuali dengan ikatan baiat yang lemah. Umat Islam bersatu dalam baiat yang kuat hanya dalam masa periode 12 Imam (khalifah) setelah Rasulullah wafat, sebuah hadist dari Jabir bin Samurah (RA) :“Aku mendengar Rasulullah bersabda,”Agama ini akan terus berjaya selama dibawah naungan 12 khalifah. Mendengar sabda ini, semua orang gemuruh bertakbir.Kemudian Rasulullah bersabda dengan suara lirih hingga aku bertanya kepada ayahku (karena tidak mendengar), “Duhai Ayah, apakah yang disabdakan beliau tadi?” Ayahku menjawab, “Para khalifah itu semuanya berasal dari Quraisy.”Ketika ayahku sampai di rumahnya,datanglah orang-orang Quraisy kepadanya,“Kemudian apa lagi yang terjadi?” Ayah kumenjawab, “Setelah itu, akan terjadi pertumpahan darah.” HR. Abu Dawud: Al-Mahdi, hadits no. 4260 dan 4281 Redaksi ini sebagaimana yang terdapat dalam Sunan Abi Dawud [‘Aun Al-Ma’bad (11/368)]. Hadits ini mempunyaipenguat dalam kitab Shahih.
Hadist di atas mengindikasikan bahwa umat akan mulai berpecah setelah masa berkuasanya 12 Imam itu telah lewat (yaitu sampai di masa khalifah ke-8 dari dinasti Bani Umayyah menurut pemahaman yang lebih rajih dari ulama Ahlussunnah). Hal ini terbukti saat berkuasanya bani Abbasiyyah, mereka berkuasa tanpa adanya kesatuan umat secara keseluruhan untuk mendukung mereka (baiat yang lemah), dibuktikan dengan adanya kekhilafahan tandingan di Maghrib (Maroko) dan di Andalus dari Bani Marwan. Singgungan hadist mengenai lemahnya baiat Inipun berlaku untuk para raja/khilafah selain Dinasti Abbasiyyah di masa fitnah Sarra (Bani Marwan).
Semakin kepemimpinan terbagi-bagi semakin terwujudlah gambaran dari Rasulullah “Kemudian orang-orang membaiat seorang laki-laki sebagaimana pangkal paha pada tulang rusuk (maksudnya goyah dan tidak teguh).”, penghianatan dan kezhaliman banyak terjadi menyebabkan semakin terpuruknya umat, namun para penguasa zhalim ini tidak menyadari bahwa kehancuran sedang menanti mereka. Fitnah Sarra berlangsung lama sampai akhir periode mulkan Adhon, dan mengantarkan kepada fitnah yang berikutnya yang lebih besar yaitu fitnah Duhaima.
Fitnah Duhaima fitnah ini dicirikan gelap dan membabi buta, fitnah ini terjadi sebelum datangnya fitnah Dajjal. Menurut Intepretasi kami, fitnah ini dibawa oleh golongan Ya’juj Ma’juj (Bangsa Turk yang hidup di deretan pegunungan Kaukasus) yang memerangi umat manusia, termasuk umat Islam. Pertama kali fitnah ini muncul adalah di penghujung masa mulkan Adhon yaitu pada saat tentara mongol/ Tatar dibawah pimpinan Jenghis Khan menguasai dunia Islam, mereka membantai dengan membabi buta dan memulai era kegelapan yang tidak hanya menghancurkan fisik namun juga menghancurkan keimanan, yaitu dengan memaksakan sebuah hukum buatan dari kitab Ilyasiq/ Ilyasa yang dikarang oleh Jenghis Khan. Kitab undang-undang Ilyasiq disusun oleh Jenghis Khan dengan mengambil dan menggabungkan nilai-nilai Islam , Nasrani , Yahudi dan buah pikiran Jenghis khan sendiri. Walaupun kerajaan Tatar akhirnya mengklaim diri mereka menganut Islam, namun para ulama Islam seperti ibnu Taimiyah (Rahiimahullah) menyatakan bangsa Tatar dan pengikutnya adalah Kafir dan wajib diperangi karena berhukum dengan hukum Kafir yaitu Ilyasiq.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda tentang fitnah Duhaima : “Ketika dikatakan, Fitnah ini sudah berlalu, kenyataannya fitnah terus saja berlangsung”, Fitnah Duhaima seakan telah sirna ketika fitnah bangsa Tatar bisa dibendung. Kekhilafahan Islam bertahan ditangan dinasti Mamalik (bangsa Mamluk) kemudian sampai kepada dinasti Usmaniyah , Rasulullah mengatakan fitnah Duhaima tidak menyisakan seorang pun kecuali ia menamparnya dengan tamparan yang keras , maksud sabda Rasulullah ini belum terealisasi di masa berkuasanya bangsa Tatar, akan tetapi ketika masa berganti seiring dengan runtuhnya Dinasti Usmani maka fitnah Duhaima yang dikira telah usai dengan kemunduran kerajaan Tatar ternyata muncul kembali secara masif membawa fitnah secara merata di seluruh wilayah dunia dan di semua bidang kehidupan masyarakat dunia.
Fitnah ini dibawa oleh golongan Ya’juj Ma’juj yang memporakporandakan tatanan dunia (yang waktu itu dipimpin Islam) dengan perang, dikenal oleh sejarah dengan sebutan perang dunia pertama dan perang dunia kedua, mengantarkan pada runtuhnya kehilafahan Islam secara total, umat Islam tercerai-berai tidak lagi memiliki struktur pemerintahan dan hukum yang berjalan, setiap wilayah dikuasai oleh penjajah yang digerakkan oleh Ya’juj Ma’juj yang juga menghapus Islam sebagai tatanan hukum dunia , dan menggantinya dengan tatanan dunia baru yang sekuler. Ya’juj dan Ma’juj pada masa ini juga berhasil mengembalikan orang-orang yang telah diusir (dibinasakan ) dari tanah suci (Yerusallem), hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam Alqur’an , surat Al-Anbiya ayat 95-97 : “Sesungguhnya tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami). Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata), “Aduhai, celakalah kami. Sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim.”,
Ayat di atas adalah dalil /hujjah bahwa Yajuj dan ma’juj -lah yang telah keluar kemudian mereka melakukan kezhaliman (penjajahan , memprakarsai perang dunia 1 dan 2) dengan salah satu tujuannya merebut kembali tanah suci yaitu Yerusalem, yang akhirnya dikenal dengan negara Israel. Dunia Islam pun dengan ini masuk ke dalam fase/ babak ke-4, yaitu babak Mulkan Jabbariyah (Raja-raja yang mengigit).Para mulkan Jabbariyah/pemerintahan yang dibentuk oleh para penjajah /Yajuj Majuj inilah yang memaksakan sistem pemerintahan sekuler diterapkan di masing-masing wilayah yang terkurung sekat-sekat teritori kebangsaan(Baca: nasionalisme) .
Bukan hanya kaum muslimin saja yang porak-poranda, akan tetapi umat lain juga merasakan “tamparan” fitnah Duhaima ini. Kemusyrikan, Kemiskinan dan ketidakadilan, kesewenang-wenangan, kemerosotan moral/Akhlaq dirasakan oleh setiap orang di setiap lini kehidupan pada masa ini, ekonominya riba, pendidikannya berbasis sekuler, di bidang kesehatannya ;menghalalkan yang haram, dan sebagainya, di masa ini juga muncul berbagai dien/agama baru yang berporos pada sekuleritas, seperti Nasionalisme, demokrasi, komunisme. dianggap sebagai sebuah “pegangan” dan pedoman hidup baru yang lebih diterima oleh tatanan dunia baru ini, sehingga di dalam fitnah ini Tidak ada muslim yang selamat kecuali ia dipaksa meng-iya-kan aturan/sistem yang berlaku dalam tatanan dunia sekuler yang dibentuk Ya’juj Ma’juj.
Fitnah kekafiran dan kerusakan masif di setiap lini kehidupan ini dipercepat dengan berkembangnya Industri dan informasi (dimulai dari era revolusi Industri dan era revolusi informasi) , yang dengannya mereka memenuhi dunia dengan syubhat dan syahwat, menghiasi keburukan menjadi dipandang baik dan biasa, kemusyrikan dijadikan sebagai bagian dari hak asasi dan harus dilestarikan, yang halal dibuat haram dan sebaliknya, dan sebagainya. Akibatnya seseorang yang pada pagi hari beriman bisa secara tidak sadar menjadi kafir pada sore harinya , dan orang yang sore harinya beriman bisa menjadi kafir pagi harinya (secara tidak sadar) akibat menyetujui / mengikuti/ menjalankan apa yang dibawa oleh Ya’juj Ma’juj ini baik dalam hal pemikiran, ideologi , hukum ataupun sistem-sistem pengaturan kehidupan yang mereka ciptakan. Sabda Rasulullah tentang ciri fitnah Duhaima “Ketika itu seseorang memasuki waktu pagi sebagai orang yang beriman, tetapi memasuki waktu sore sudah menjadi orang kafir.” .
Lebih jauh lagi, dengan berjalannya waktu tatanan sekulerisme semakin mapan, semakin mendarah daging di kehidupan umat manusia dan khususnya di kehidupan umat Islam itu sendiri. Akhirnya di dalam tubuh umat Islam pun terbelah menjadi 2 bagian, satu kelompok berpegang teguh dengan Islam dan yang lainnya menyetujui sistem /dien yang ditetapkan oleh Ya’juj dan ma’juj seperti misalnya : demokrasi, nasionalisme ataupun komunisme. Akhirnya Islam yang kaaffah pun menjadi terasing, pemegang teguh Tauhid dan islam yang murni pun semakin dipandang asing/aneh dan bahkan dibenci oleh mereka yang juga mengaku Islam. Orang yang ingin menegakkan kembali syariat Islam dianggap musuh bersama.
Fitnah Duhaima ini pun memuncak dengan dideklarasikannya perang global melawan islam dengan dalih “perang melawan terorisme” . Dengan ini, tidak satupun umat islam yang tidak “tertampar”. Dengan tamparan tersebut ada yang tetap teguh dengan tauhid dan keislamannya, dan ada yang akhirnya menjadi “munafik” dengan berpihak kepada tatanan/sistem Ya’juj dan Ma’juj dan ikut membenci/memerangi orang yang berpegang teguh kepada Islam yang murni. Dua kubu ini akan semakin terpolarisasi , sabda Rasulullah SAW menjelaskan tentang fitnah Duhaima : “Manusia menjadi dua kelompok, kelompok iman yang tidak ada kemunafikan padanya dan kelompok munafik yang tiada iman padanya”.
Apakah yang disabdakan Rasulullah sudah terealisasi hari ini? ….kalau Kami menjawab : Ya..sudah. Kemudian Rasulullah bersabda : “Apabila seperti itu keadaan kalian maka kalian tunggulah Dajjal, pada harinya itu, atau esok harinya” . Inilah fitnah yang mendahului Almahdi dan Dajjal, dan apabila semua fitnah besar telah terpenuhi di zaman kita ini, maka tandanya kita sedang menunggu Almahdi dan Ad-Dajjal akan segera muncul di masa ini. Bersiaplah !
Wallahu A’lam Bish Showaab.
Post a Comment